Karet alam adalah jenis karet pertama yang dibuat sepatu. Sesudah penemuan proses vulkanisasi yang membuat karet menjadi tahan terhadap cuaca dan tidak larut dalam minyak, maka karet mulai digemari sebagai bahan dasar dalam pembuatan berbagai macam alat untuk keperluan dalam rumah ataupun pemakaian di luar rumah seperti sol sepatu dan bahkan sepatu yang semuanya terbuat dari bahan karet. Sebelum itu usaha-usaha menggunakan karet untuk sepatu selalu gagal karena karet manjadi kaku di musim hujan dan lengket serta berbau di musim panas seperti yang pernah dilakukan oleh Roxbury Indian Rubber Company pada tahun 1833 dengan cara melarutkan karet alam terpentin dan mencampurnya dengan hitam karbon untuk menghasilkan karet keras yang tahan air
Struktur dasar karet alam adalah rantai linear unit isoprene (C5H8) yang berat molekul rata-ratanya tersebar antara 10.000 - 400.000.
Sifat-sifat mekanik yang baik dari karet alam menyebabkannya dapat digunakan untuk berbagai keperluan umum seperti sol sepatu dan telapak ban kendaraan. Pada suhu kamar, karet tidak berbentuk Kristal padat dan juga tidak berbentuk cairan.
Perbedaan karet dengan benda-benda lain, tampak nyata pada sifat karet yang lembut, fleksibel dan elastis. Sifat-sifat ini memberi kesan bahwa karet alam adalah suatu bahan semi cairan alamiah atau suatu cairan dengan kekentalan yang sangat tinggi.Namun begitu, sifat-sifat mekaniknya menyerupai kulit binatang sehingga harus dimastikasi untuk memutus rantai molekulnya agar menjadi lebih pendek.
Proses mastikasi ini mengurangi keliatan atau viskositas karet alam sehingga akan memudahkan proses selanjutnya saat bahan-bahan lain ditambahkan.
Banyak sifat-sifat karet alam ini yang dapat memberikan keuntungan atau kemudahan dalam proses pengerjaan dan pemakaiannya, baik dalam bentuk karet atau kompon maupun dalam bentuk vulkanisat.
Dalam bentuk bahan mentah, karet alam sangat disukai karena mudah menggulung pada roll sewaktu diproses dengan open mill/penggiling terbuka dan dapat mudah bercampur dengan berbagai bahan-bahan yang diperlukan di dalam pembuatan kompon. Dalam bentuk kompon, karet alam sangat mudah dilengketkan satu sama lain sehingga sangat disukai dalam pembuatan barang-barang yang perlu dilapis-lapiskan sebelum vulkanisasi dilakukan.
Keunggulan daya lengket inilah yang menyebabkan karet alam sulit disaingi oleh karet sintetik dalam pembuatan karkas untuk ban radial ataupun dalam pembuatan sol karet yang sepatunya diproduksi dengan cara vulkanisasi langsung.
Vulkanisasi karet alam sangat baik dalam hal-hal berikut:
• Kepegasan pantul
Hal ini menyebabkan timbulnya kalor (heat build up) rendah, yang sangat diperlukan oleh barang jadi karet yang akan mengalami hentakan berulang-ulang.
Sifat inilah yang menyebabkan karet alam selalu dipakai dalam pembuatan ban truk dan kapal terbang yang sulit disaingi oleh karet sintetik.
• Tegangan putus
• Ketahanan sobek dan kikis
• Fleksibilitas pada suhu rendah
• Daya lengket ke fabric atau logam
Sol sepatu sangat memerlukan sifat-sifat tersebut di atas, karena itu karet alam adalah pilihan sangat tepat. Secara umum sol sepatu membutuhkan kekuatan, ketahanan kikis, dan ketahanan sobek yang tinggi. Vulkanisat karet alam kuat dan tahan lama bahkan dapat digunakan pada suhu -60°F. Karet alam bisa dibuat menjadi karet yang agak kaku tetapi masih mempunyai fleksibilitas dan ketahanan kikis, ketahanan retak lentur serta kekuatan tinggi. Hal ini menguntungkan dalam pembuatan sol sepatu karena sol sepatu bisa dibuat tipis (seperti sol luar sepatu olahraga), sambil tetap menjaga agar tidak merasakan batu sewaktu berjalan.
Untuk menurunkan ongkos produksi, selain karet alam, kompon sol berwarna hitam bisa ditambah dengan karet reclaim dan bekas vulkanisat yang tidak terpakai yang banyak terdapat di pabrik. Untuk kompon putih, yang dipakai haruslah karet reclaim putih dan bekas vulkanisat putih juga.
Kekakuan vulkanisat dapat ditingkatkan dengan penambahan resin dengan kadar styrene yang tinggi dan diperhitungkan sebagai jumlah karet. Perlu diingat utnuk keperluan eksport hendaklah kompon yang baik, yaitu yang mengandung bahan-bahan yang baik pula yang dipakai.
Walapupun kalor yang timbul dari karet alam lebih rendah dari karet sintetik seperti SBR, tetapi karet alam agak kurang tahan terhadap panas dibanding SBR. Karet alam tidak tahan ozon dan cahaya matahari. Ketahanan terhadap minyak dan pelarut hydrocarbon sangat buruk.
Kandungan Alami Karet Mentah
Karet alam mengandung beberapa bahan antara lain: karet hidrokarbon, protein, lipid netral, lipid polar, karbohidrat, garam anorganik, dll.
Protein dalam karet alam dapat mempercepat vulkanisasi atau menarik air dalam vulkanisat. Beberapa lipid ada yang merupakan bahan pencepat atau antioksidan. Protein juga dapat meningkatkan heat build up tetapi dapat juga meningkatkan ketahanan sobek.
Karet alam lama kelamaan dapat meningkat viskositasnya atau menjadi keras. Ada jenis karet alam yang sudah ditambah bahan garam hidroksilamin sehingga tidak bisa mengeras dan disebut karet CV (contant viscosity). Karet alam bisa mengkristal pada suhu rendah (misalkan -26°C) dan bila ini terjadi, diperlukan pemanasan karet sebelum diolah pabrik barang jadi karet.
Sumber: http://industrikaret.wordpress.com/2008/05/12/hello-world/
Selasa, 05 Mei 2009
Harga Ekspor Karet Mulai Membaik
Palembang, Kompas - Harga karet kualitas ekspor di Palembang, Senin (4/5), mengalami kenaikan dari Rp 15.020 per kg menjadi Rp 15.181 per kg. Kenaikan ini berlangsung terus sejak beberapa pekan terakhir.
Data Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Selatan di Palembang menunjukkan, dalam beberapa hari terakhir harga karet kualitas ekspor jenis SIR 20 di pasaran internasional mengalami kenaikan dibandingkan sebelumnya.
Beberapa pedagang pengumpul ketika ditemui sebelum transaksi di kawasan pabrik pengolahan karet kawasan Kertapati, Palembang, mengatakan, harga jual karet kualitas ekspor dalam sebulan terakhir memang sudah ada kenaikan, kemudian turun lagi dan seterusnya atau masih fluktuatif.
Harga karet kualitas ekspor mulai ada kenaikan sehingga ada pengaruhnya terhadap harga di tingkat petani yang juga ikut mengalami kenaikan.
”Harga karet di tingkat petani sekarang ini kisaran Rp 6.500 per kg atau mengalami kenaikan dibandingkan bulan lalu yang hanya Rp 5.500 per kg,” kata Muskar, pedagang pengumpul.
Menurut dia, harga karet di tingkat petani sekarang ini mulai membaik, tetapi masih jauh dari harga normal seperti pada tahun 2007.
Karena itu, dia berharap harga karet tersebut beberapa hari mendatang akan terus mengalami kenaikan. Dengan demikian, para petani yang sebagian besar hanya mengandalkan dari hasil salah satu komoditas andalan Sumsel tersebut tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Data Dinas Perkebunan Sumsel menunjukkan, luas areal perkebunan karet di provinsi tersebut hampir 1 juta hektar, tersebar di beberapa daerah penghasil, seperti Kabupaten Muara Enim, Musi Banyuasin, Lahat, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, dan Banyuasin.(ANTARA/BOY
Sumber : Kompas 5 Mei 2009
Data Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Selatan di Palembang menunjukkan, dalam beberapa hari terakhir harga karet kualitas ekspor jenis SIR 20 di pasaran internasional mengalami kenaikan dibandingkan sebelumnya.
Beberapa pedagang pengumpul ketika ditemui sebelum transaksi di kawasan pabrik pengolahan karet kawasan Kertapati, Palembang, mengatakan, harga jual karet kualitas ekspor dalam sebulan terakhir memang sudah ada kenaikan, kemudian turun lagi dan seterusnya atau masih fluktuatif.
Harga karet kualitas ekspor mulai ada kenaikan sehingga ada pengaruhnya terhadap harga di tingkat petani yang juga ikut mengalami kenaikan.
”Harga karet di tingkat petani sekarang ini kisaran Rp 6.500 per kg atau mengalami kenaikan dibandingkan bulan lalu yang hanya Rp 5.500 per kg,” kata Muskar, pedagang pengumpul.
Menurut dia, harga karet di tingkat petani sekarang ini mulai membaik, tetapi masih jauh dari harga normal seperti pada tahun 2007.
Karena itu, dia berharap harga karet tersebut beberapa hari mendatang akan terus mengalami kenaikan. Dengan demikian, para petani yang sebagian besar hanya mengandalkan dari hasil salah satu komoditas andalan Sumsel tersebut tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Data Dinas Perkebunan Sumsel menunjukkan, luas areal perkebunan karet di provinsi tersebut hampir 1 juta hektar, tersebar di beberapa daerah penghasil, seperti Kabupaten Muara Enim, Musi Banyuasin, Lahat, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, dan Banyuasin.(ANTARA/BOY
Sumber : Kompas 5 Mei 2009
Tanjabtim Butuh Pasar Pelelangan Karet
MUARASABAK- Kabupaten Tanjung Jabung Timur akan membangun pasar lelang karet di beberapa desa, diharapkan para petani tidak lagi menjual karet kepada tengkulak dengan harga yang sangat rendah.
‘’Selama ini mereka menjual dengan para tengkulak yang datang ke temat mereka dengan harga yang jauh lebih murah,’’ kata Kepala Dinas Kehutanan Tanjab Timur, Erwin
Menurut Erwin, pihaknya akan bekerjasama dengan Deperindag untuk membangun pasar lelang karet di daerah-daerah sentra penghasil karet di Kabupaten Tanjabtim.
Saat ini, harga karet cukup berfariasi yang berkisar dari Rp. 6000 hingga Rp.7000. padahal sebelumnya harga karet bisa mencapai Rp.15 ribu. (Infojambi.com/Ven/Tam)
‘’Selama ini mereka menjual dengan para tengkulak yang datang ke temat mereka dengan harga yang jauh lebih murah,’’ kata Kepala Dinas Kehutanan Tanjab Timur, Erwin
Menurut Erwin, pihaknya akan bekerjasama dengan Deperindag untuk membangun pasar lelang karet di daerah-daerah sentra penghasil karet di Kabupaten Tanjabtim.
Saat ini, harga karet cukup berfariasi yang berkisar dari Rp. 6000 hingga Rp.7000. padahal sebelumnya harga karet bisa mencapai Rp.15 ribu. (Infojambi.com/Ven/Tam)
Kamis, 30 April 2009
Ekspor Karet RI Jauh di Dibawah Kuota
ITRC tidak berwenang beri sanksi
JAKARTA: Eksportir karet mengurangi volume ekspor selama kuartal I/2009 sebanyak 197.423 ton atau 170% dibandingkan dengan kesepakatan dengan tiga negara anggota ITRC sebanyak 116.000 ton.
Dengan demikian, volume ekspor selama kuartal I lebih rendah dari target sebelumnya.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Suharto Honggokusumo mengatakan selama kuartal I/ 2009, pengurangan volume ekspor karet telah melebihi kuota yang telah disepakati oleh International Tripartite Rubber Council (ITRC).
"Kami [Gapkindo] telah mengurangi volume ekspor karet. Kalau tidak mematuhi itu [pengurangan volume ekspor], maka akan dimarahi ITRC, karena telah menjadi kesepakatan bersama," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.
Menurut Suharto, berdasarkan kesepakatan ITRC, Indonesia dapat mengekspor karet selama semester I tahun ini sebanyak 499.459 ton, tetapi realisasi ekspor hanya 418.037 ton. Hal itu disebabkan pengurangan yang dilakukan melebihi kuota yang telah diberikan ITRC.
Indonesia, Thailand, dan Malaysia yang tergabung dalam ITRC telah membuat kesepakatan pengurangan volume ekspor karet alam selama 2009 sebesar 915.000 ton atau 16% dari total ekspor 2008.
Program pengurangan ekspor itu dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga.
Total pengurangan sebesar 915.000 ton terdiri dari 700.000 ton melalui skema kesepakatan ketiga negara (Agree Export Tonnage Scheme/AETS), sedangkan 215.000 ton sebagai dampak dari peremajaan pohon karet dengan penebangan karet yang dinilai telah tua dan tidak produktif lagi.
Menurut Suharto, pengurangan kuota ekspor tersebut bertujuan menyeimbangkan pasokan sehingga harga tidak jatuh dan diharapkan stabil.
Tanpa sanksi
Berbeda dengan data Gapkindo, Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, Ditjen Perdagangan Luar Negeri, Departemen Perdagangan Yamanah A.C. mengatakan program pengurangan volume ekspor karet selama kuartal I terealisasi hanya 66% atau 76.560 ton.
"Harga karet kan mulai membaik. Jadi tidak masalah untuk mengekspor dalam jumlah besar. Tidak ada sanksi dari kesepakatan ITRC," ujarnya.
Menurut Yamanah, pengurangan volume dilakukan untuk menjaga agar harga tidak anjlok, sehingga saat harga mulai membaik, para eksportir agar melakukan pengapalan.
Dia menambahkan tidak ada sanksi dari kesepakatan ITRC, karena hanya bersifat imbauan dan kesadaran masing-masing negara untuk menjaga harga karet di pasar internasional tetap stabil.
Ekspor karet ketiga negara akan dikurangi sebanyak 270.000 ton atau 38,7% dari AETS selama kuartal I/2009. Kuota ekspor karet dari Indonesia dikurangi sebesar 116.000 ton selama kuartal I/2009, sedangkan Malaysia harus memangkas sebanyak 22.000 ton dan terbesar dari Thailand sebesar 132.000 ton.
Suharto tidak mengetahui realisasi pengurangan volume ekspor yang dilakukan Malaysia dan Thailand.
Harga karet saat ini, kata dia, telah mencapai US$1,58 per kg. Menurut dia, harga karet naik mulai awal bulan ini dari harga pada akhir Maret yang masih US$1,37 per kg.
Kenaikan harga minyak mentah dunia, kata dia, akan berpengaruh terhadap menguatnya harga karet di pasar internasional dan sebaliknya.
Suharto menambahkan faktor lain yang menyebabkan penguatan harga karet adalah program pengurangan volume ekspor yang dilakukan ITRC.
Suharto menilai naiknya harga karet pada pekan lalu juga terpengaruh gejolak politik Thailand sebagai produsen karet terbesar.
Gejolak politik di Thailand, katanya, dikhawatirkan mengganggu ekspor karet dari negara itu, karena negeri itu merupakan negara produsen karet terbesar.
Dirjen Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan Diah Maulida menuturkan kesepakatan ITRC tersebut merupakan instrumen yang sifatnya sementara saja, sehingga kesepakatan tersebut akan terus dikaji dengan melihat perkembangan harga karet di pasar internasional. (19) (redaksi@bisnis.co.id)
Sumber : Bisnis Indonesia
JAKARTA: Eksportir karet mengurangi volume ekspor selama kuartal I/2009 sebanyak 197.423 ton atau 170% dibandingkan dengan kesepakatan dengan tiga negara anggota ITRC sebanyak 116.000 ton.
Dengan demikian, volume ekspor selama kuartal I lebih rendah dari target sebelumnya.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Suharto Honggokusumo mengatakan selama kuartal I/ 2009, pengurangan volume ekspor karet telah melebihi kuota yang telah disepakati oleh International Tripartite Rubber Council (ITRC).
"Kami [Gapkindo] telah mengurangi volume ekspor karet. Kalau tidak mematuhi itu [pengurangan volume ekspor], maka akan dimarahi ITRC, karena telah menjadi kesepakatan bersama," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.
Menurut Suharto, berdasarkan kesepakatan ITRC, Indonesia dapat mengekspor karet selama semester I tahun ini sebanyak 499.459 ton, tetapi realisasi ekspor hanya 418.037 ton. Hal itu disebabkan pengurangan yang dilakukan melebihi kuota yang telah diberikan ITRC.
Indonesia, Thailand, dan Malaysia yang tergabung dalam ITRC telah membuat kesepakatan pengurangan volume ekspor karet alam selama 2009 sebesar 915.000 ton atau 16% dari total ekspor 2008.
Program pengurangan ekspor itu dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga.
Total pengurangan sebesar 915.000 ton terdiri dari 700.000 ton melalui skema kesepakatan ketiga negara (Agree Export Tonnage Scheme/AETS), sedangkan 215.000 ton sebagai dampak dari peremajaan pohon karet dengan penebangan karet yang dinilai telah tua dan tidak produktif lagi.
Menurut Suharto, pengurangan kuota ekspor tersebut bertujuan menyeimbangkan pasokan sehingga harga tidak jatuh dan diharapkan stabil.
Tanpa sanksi
Berbeda dengan data Gapkindo, Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, Ditjen Perdagangan Luar Negeri, Departemen Perdagangan Yamanah A.C. mengatakan program pengurangan volume ekspor karet selama kuartal I terealisasi hanya 66% atau 76.560 ton.
"Harga karet kan mulai membaik. Jadi tidak masalah untuk mengekspor dalam jumlah besar. Tidak ada sanksi dari kesepakatan ITRC," ujarnya.
Menurut Yamanah, pengurangan volume dilakukan untuk menjaga agar harga tidak anjlok, sehingga saat harga mulai membaik, para eksportir agar melakukan pengapalan.
Dia menambahkan tidak ada sanksi dari kesepakatan ITRC, karena hanya bersifat imbauan dan kesadaran masing-masing negara untuk menjaga harga karet di pasar internasional tetap stabil.
Ekspor karet ketiga negara akan dikurangi sebanyak 270.000 ton atau 38,7% dari AETS selama kuartal I/2009. Kuota ekspor karet dari Indonesia dikurangi sebesar 116.000 ton selama kuartal I/2009, sedangkan Malaysia harus memangkas sebanyak 22.000 ton dan terbesar dari Thailand sebesar 132.000 ton.
Suharto tidak mengetahui realisasi pengurangan volume ekspor yang dilakukan Malaysia dan Thailand.
Harga karet saat ini, kata dia, telah mencapai US$1,58 per kg. Menurut dia, harga karet naik mulai awal bulan ini dari harga pada akhir Maret yang masih US$1,37 per kg.
Kenaikan harga minyak mentah dunia, kata dia, akan berpengaruh terhadap menguatnya harga karet di pasar internasional dan sebaliknya.
Suharto menambahkan faktor lain yang menyebabkan penguatan harga karet adalah program pengurangan volume ekspor yang dilakukan ITRC.
Suharto menilai naiknya harga karet pada pekan lalu juga terpengaruh gejolak politik Thailand sebagai produsen karet terbesar.
Gejolak politik di Thailand, katanya, dikhawatirkan mengganggu ekspor karet dari negara itu, karena negeri itu merupakan negara produsen karet terbesar.
Dirjen Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan Diah Maulida menuturkan kesepakatan ITRC tersebut merupakan instrumen yang sifatnya sementara saja, sehingga kesepakatan tersebut akan terus dikaji dengan melihat perkembangan harga karet di pasar internasional. (19) (redaksi@bisnis.co.id)
Sumber : Bisnis Indonesia
Ekspor Karet Kalsel Tetap Lesu
BANJARMASIN, SELASA - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Subarjo mengungkapkan, harga ekspor karet alam nampaknya belum menggembirakan.
Hal itu terlihat dari perkembangan harga rata-rata ekspor karet alam asal Kalsel dalam tiga bulan terakhir Tahun 2009, ungkapnya.
Oleh karenanya ia memaklumi, keluhan petani karet di provinsi yang terdiri 13 Kabupaten/Kota tersebut. Karena sebelumnya harga karet alam di pasaran dunia sangat baik, kemudian menurun dan anjlok, akibat terpaan krisis ekonomi dan keuangan global pada 2008 lalu, tuturnya.
"Namun kita berharap derita petani karet jangan sampai berkepanjangan dan dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka bisa bersemangat kembali melakoni pekerjaanya," ujar Subarjo.
Data dari Disperindag Kalsel, perkembangan harga rata-rata komoditi ekspor karet alam pada triwulan pertama 2009, per kilogramnya tercatat Januari 1,64 dolar Amerika Serikat (AS), Februari turun menjadi 1,53 dolar AS, kemudian Maret turun lagi hingga harganya cuma 0,33 dolar AS.
Volume ekspor karet alam asal Kalsel triwulan pertama 2009 tercatat Januari 1.990.275 Kg, Februari turun jadi 1.881.598 Kg, dan Maret naik lagi menjadi 3.477.260 Kg.
Sedangkan nilai ekspor karet alam Kalsel dalam periode yang sama pada triwulan pertama 2009 tercatat, Januari 3.262.395,66 dolar AS, Februari turun jadi 2.776.806,05 dolar AS, dan Maret naik menjadi 4.639.571,19 dolar AS.(antara)
Sumber: Banjarmasi Post, Selasa 28 April 2009
Hal itu terlihat dari perkembangan harga rata-rata ekspor karet alam asal Kalsel dalam tiga bulan terakhir Tahun 2009, ungkapnya.
Oleh karenanya ia memaklumi, keluhan petani karet di provinsi yang terdiri 13 Kabupaten/Kota tersebut. Karena sebelumnya harga karet alam di pasaran dunia sangat baik, kemudian menurun dan anjlok, akibat terpaan krisis ekonomi dan keuangan global pada 2008 lalu, tuturnya.
"Namun kita berharap derita petani karet jangan sampai berkepanjangan dan dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka bisa bersemangat kembali melakoni pekerjaanya," ujar Subarjo.
Data dari Disperindag Kalsel, perkembangan harga rata-rata komoditi ekspor karet alam pada triwulan pertama 2009, per kilogramnya tercatat Januari 1,64 dolar Amerika Serikat (AS), Februari turun menjadi 1,53 dolar AS, kemudian Maret turun lagi hingga harganya cuma 0,33 dolar AS.
Volume ekspor karet alam asal Kalsel triwulan pertama 2009 tercatat Januari 1.990.275 Kg, Februari turun jadi 1.881.598 Kg, dan Maret naik lagi menjadi 3.477.260 Kg.
Sedangkan nilai ekspor karet alam Kalsel dalam periode yang sama pada triwulan pertama 2009 tercatat, Januari 3.262.395,66 dolar AS, Februari turun jadi 2.776.806,05 dolar AS, dan Maret naik menjadi 4.639.571,19 dolar AS.(antara)
Sumber: Banjarmasi Post, Selasa 28 April 2009
Senin, 27 April 2009
Tinajauan Harga Karet 27 April 2009
Pasaran: Turun. Harga turun akibat kekhawatiran terhadap penurunan permintaan.
Bahkan akhir pekan lalu, karet berjangka di Tokio sempat menyentuh 155 yen/kg akibat penguatan yen.
Namun pasaran mulai membaik akhir pekan lalu setelah tiga produsen papan atas Asia, Thailand, Indonesia dan Malaysia mengancam akan melakukan intervensi di pasar berjangka guna menyanggah harga.
Tidak hanya itu, negara-negara yang menghasilkan 70% output karet global itu berencana untuk mengurangi ekspor guna menaikkan harga.
Di Tokio, kontrak benchmark September 2009 ditutup 157,80 yen per kilo, turun dari 171,30 yen sepekan sebelumnya. Sementara kontrak Oktober yang memulai debutnya Jum’at berakhir 158,00 yen dibanding dengan harga pembukaan pagi 159,20 yen.
Di Singapura, TSR-20 Mei ditutup 144,90 sen AS/kg, turun dari 152,50 sepekan sebelumnya.
Di Thailand, STR-20 untuk Mei tercatat $1,58/kg, turun dari $1,66 Jumat sebelumnya.
Di Malaysia, SMR-20 untuk Mei ditutup $1,58/kg, turun dari $1,63
Di Indonesia, sentimen semakin tertekan oleh berita negatif tentang penutupan pabrik otomotif GM dalam jangka panjang selama libur musim panas. Lesunya permintaan karena kebanyakan konsumen sudah “well-covered” juga salah satu faktor penekan harga.
Suplai bahan olahan relatif normal. Harga bertahan dalam kisaran Rp.13.700/kg di Sumut.
SIR-20 ex Belawan diperdagangkan 68 sen AS/lb untuk Juni dan 68,50 sen untuk Juli.
Sumber : Waspada, Medan
Bahkan akhir pekan lalu, karet berjangka di Tokio sempat menyentuh 155 yen/kg akibat penguatan yen.
Namun pasaran mulai membaik akhir pekan lalu setelah tiga produsen papan atas Asia, Thailand, Indonesia dan Malaysia mengancam akan melakukan intervensi di pasar berjangka guna menyanggah harga.
Tidak hanya itu, negara-negara yang menghasilkan 70% output karet global itu berencana untuk mengurangi ekspor guna menaikkan harga.
Di Tokio, kontrak benchmark September 2009 ditutup 157,80 yen per kilo, turun dari 171,30 yen sepekan sebelumnya. Sementara kontrak Oktober yang memulai debutnya Jum’at berakhir 158,00 yen dibanding dengan harga pembukaan pagi 159,20 yen.
Di Singapura, TSR-20 Mei ditutup 144,90 sen AS/kg, turun dari 152,50 sepekan sebelumnya.
Di Thailand, STR-20 untuk Mei tercatat $1,58/kg, turun dari $1,66 Jumat sebelumnya.
Di Malaysia, SMR-20 untuk Mei ditutup $1,58/kg, turun dari $1,63
Di Indonesia, sentimen semakin tertekan oleh berita negatif tentang penutupan pabrik otomotif GM dalam jangka panjang selama libur musim panas. Lesunya permintaan karena kebanyakan konsumen sudah “well-covered” juga salah satu faktor penekan harga.
Suplai bahan olahan relatif normal. Harga bertahan dalam kisaran Rp.13.700/kg di Sumut.
SIR-20 ex Belawan diperdagangkan 68 sen AS/lb untuk Juni dan 68,50 sen untuk Juli.
Sumber : Waspada, Medan
Selasa, 21 April 2009
Ekspor Karet Sumut Turun
Senin, 20 April 2009 | 20:18 WIB
MEDAN, KOMPAS.com - Volume ekspor karet Sumatera Utara (Sumut) pada triwulan pertama tahun ini anjlok 27,46 persen dibanding periode sama tahun lalu atau tinggal 99.120 ton.
"Selain dipicu pengurangan ekspor sesuai kesepakatan tiga negara produsen Indonesia, Thailand, dan Malaysia, penurunan ekspor juga akibat krisis global dan menurunnya harga minyak mentah yang berdampak pada melemahnya permintaan karet Indonesia," kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah, di Medan, Senin (20/4).
Diduga penurunan ekspor masih akan terus berlanjut dengan total sekitar 10 persen mengingat krisis masih berlanjut. "Devisa juga diperkirakan turun karena meski harga ekspor sudah mulai menguat tapi belum ke angka seperti tahun lalu," katanya.
Dia menyebutkan, harga karet SIR 20 di pasar bursa Singapura pada 17 April ditutup pada angka 1,52 dollar AS per kilogram setelah sebelumnya sempat anjlok tinggal 1,02 dolar AS per kilogram.
Harga ekspor itu masih terus berfluktuasi seperti pada Senin (20/4) yang dibuka pada harga berkisar 1,46 dollar AS hingga 1,48 dollar AS per kilogram. "Ada prediksi harga masih bisa naik lagi, tapi tidak tertutup kemungkinan tertekan. Banyak faktor yang mempengaruhi khususnya harga minyak mentah," katanya.
Eksportir karet Sumut Tjoe Min Fat, mengaku optimistis harga bisa naik terus bahkan mencapai 1,7 dollar AS per kilogram. "Harga naik karena pasokan lagi ketat dan dipicu faktor lainnya. Tapi kenaikan harga tidak langsung drastis, namun berfluktuasi," katanya.
Sumber : http://regional.kompas.com/read/xml/2009/04/20/20185914/ekspor.karet.sumut.turun
MEDAN, KOMPAS.com - Volume ekspor karet Sumatera Utara (Sumut) pada triwulan pertama tahun ini anjlok 27,46 persen dibanding periode sama tahun lalu atau tinggal 99.120 ton.
"Selain dipicu pengurangan ekspor sesuai kesepakatan tiga negara produsen Indonesia, Thailand, dan Malaysia, penurunan ekspor juga akibat krisis global dan menurunnya harga minyak mentah yang berdampak pada melemahnya permintaan karet Indonesia," kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah, di Medan, Senin (20/4).
Diduga penurunan ekspor masih akan terus berlanjut dengan total sekitar 10 persen mengingat krisis masih berlanjut. "Devisa juga diperkirakan turun karena meski harga ekspor sudah mulai menguat tapi belum ke angka seperti tahun lalu," katanya.
Dia menyebutkan, harga karet SIR 20 di pasar bursa Singapura pada 17 April ditutup pada angka 1,52 dollar AS per kilogram setelah sebelumnya sempat anjlok tinggal 1,02 dolar AS per kilogram.
Harga ekspor itu masih terus berfluktuasi seperti pada Senin (20/4) yang dibuka pada harga berkisar 1,46 dollar AS hingga 1,48 dollar AS per kilogram. "Ada prediksi harga masih bisa naik lagi, tapi tidak tertutup kemungkinan tertekan. Banyak faktor yang mempengaruhi khususnya harga minyak mentah," katanya.
Eksportir karet Sumut Tjoe Min Fat, mengaku optimistis harga bisa naik terus bahkan mencapai 1,7 dollar AS per kilogram. "Harga naik karena pasokan lagi ketat dan dipicu faktor lainnya. Tapi kenaikan harga tidak langsung drastis, namun berfluktuasi," katanya.
Sumber : http://regional.kompas.com/read/xml/2009/04/20/20185914/ekspor.karet.sumut.turun
Langganan:
Postingan (Atom)