Pertengahan bulan Februari 2010 masyarakat dihebohkan oleh berita seorang guru besar melakukan penjiplak (plagiat) karya imiha orang lain di Bandung, dan disebut-sebut pula dua orang calon professor di Yogyakarta sedang pula diteliti / diklarifikasi karya ilmiahnya, karena ada kecurigaan karya itu hasil penjiplakan.
Banyak komentar di banyak media sahut menyahut, banyak pakar berbicara tentang plagiarisme, kendati akhir-akhir ini komentar tersebut telah boleh berkurang, inti dari komentar itu adalah semuanya mengutuk penjiplakan dilakukan oleh para pakar / dosen / peneliti termasuk tentunya oleh sang guru besar, tetapi bagai mana plagiarisme yang dilakukan oleh masyarakat yang lain, apakah dihalalkan?
Plagiarism menggambarkan sesuatu perilaku yang tidak jujur dilakukan oleh sang guru besar, artinya guru besar, dosen, pakar, peneliti harus jujur, mahasiwa dan pelajar sebagai calon ilmuwan tentu harus jujur dan didik harus jujur pula. Sebaliknya akan timbul pertanyaan apakah sang guru besar itu selama pendidikannya melakukan kejujuran dan didik jujur dengan baik atau tidak, sehingga ia berlaku tidak jujur. Apakah selama mengajar di perguruan tinggi mendidikan kejujuran kepada mahasiwanya.
Ketidak jujuran yang terjadi di negeri ini sudah merupakan wabah pendemi yang telah merasuki banyak orang dan disemua sisi kehidupan apakah mereka dosen, politisi, penegak hukum, pejabat birokrasi, pengusaha, petani, pelajar , petani, nelayan, orang kota, orang desa, dan lain-lain bahkan tokoh agama pun sudah ada yang berperilaku tidak jujur. Hampir semuanya melalui jenjang pendidikan terutama pendidikan dasar, dan sebagian dari mereka itu juga dari perguruan tinggi, artinya lemabga pendidikan kita tidak berhasil menciptakan orang jujur. Dari sisi ini guru murid, dosen dan mahasiwa sudah sama-sama tidak jujur. Tidak mungkin dosen atau guru yang tidak jujur mendidik kejujuran kepada marid dan mahasiwanya, sepaling tinggi adalah mengajarkankan kejujuran, tetapi tidak didikan.
Ketidak jujuran di lembaga pendidikan juga tidak berdiri sendiri, karena ketidak jujuran yang berkembang dimasyarakat merangsang ketidak jujuran di lembaga pendidikan, hal ini bisa dipahamami masayarakat dan lembaga pendidikan itu saling mempengaruhi, lembaga pendidikan bagian dari masyarakat, elite dan orang awam jebolan lembaga pendidikan.
Paradoknya adalah orang membutuhkan orang lain untuk berlaku jujur kepadanya, kepada orang lain tidak terlalu peduli. Sesorang tidak senang ditipu atau diperlakukan oleh orang lain, kendati ia sebagai penipu. Kejujuran itu diperlukan oleh semua orang. Dengan kejuran konflik antar manusia akan sangat berkurang, karena salah satu sumber konflik adalah ketidak jujuran.
Dampak Ketidak Jujujuran
Akan timbul pertanyaan apa dampak ketidak jujuran dan berapa besar dampak tersebut yang mengerogoti hidup kita, dan berapa besar pula biaya ekonomi dan biaya sosial yang diakibatkan oleh ketidak jujuran tersebut, secara kuantitatif akan sulit sekali menjawabnya, secara kualititatif secara gamblang akan mudah menjawabnya yakni hidup semakin sempit karena aturan dan pengawasan semakin banyak melilit kehidupan dan merampas kenyamanan hidup.
Karena semua orang menghendaki orang lain jujur, ketidak jujuran juga sudah merampok hak kita, maka dibuat berbagai undang-undang dan aturan agar semua orang, semua warga bangsa berlaku jujur, semakin hari semakin banyak saja aturan di masyarakat sehingga hidup sangat dibatasi oleh serba aturan.
Karena tidak banyak orang jujur, dan aturan yang dibuat itu harus ditegakan dengan sanksi, maka harus pula ada pengawas, perlu jaksa, polisi, hakim, inspektorat, lembaga-lembaga pengawasan, sehingga hidup ini diawasi terus oleh orang lain, pengawas diawasi, pemerintah diawasi DPR, DPR diawasi rakyat, rakyat diawasi pemerintah, saling mengawasi hidup bertambah tidak nyaman. Pengawasan bukan hal yang gratis, pengawasan itu ada biayanya, berapa pula negara yang mengeluarkan anggaran untuk pengawasan akibat ketidak jujuran tersebut, barang kali ada 20 persen anggaran negara untuk pengawasan yang bertebaran di berbagai lembaga negara. Kalau lah bangsa ini berlaku jujur dan mau ikut aturan dengan jujur, biaya pengawasan akan dapat ditekan, sisanya dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tetapi ini suatu otopi saja barang kali.
Membangun Kejujuran
Apakah bangsa ini bisa ditingkatkan kejujurannya, karena kalau memperhatikan uraian diatas, serasa tidak mungkin, karena mewabah kemana-mana.
Kejujuran dibangun dengan membuat aturan-aturan, hasilnya adalah terlalu banyak aturan, terlalu banyak pengawas, hidup menjadi tambah susah, terbuka peluang ketidak jujujuran, terjadi ketidak jujuran ber jamaah, terkenal dengan korupsi berjamaah, mafia (kejahatan terorganisasi, ilegal loging, fishing dan mining, mafia hukum, penyeludupan besar-besaran dan lain sebagainya. Jadi membangun kejujuran dengan aturan membuat ketidak jujuran semakin berkembang.
Manusia ada pubta rasa iman kepada Tuhan, atau dapat dikatakan adanya rasa takut kepada Tuhan apapun agamanya. Barang kali meningkatkan keimanan seseorang akan dapat membuat orang takut untuk tidak jujur karena takut akan dosa. Jadi pendidikan agama ditingkatkan lagi, diberi waktu yang cukup disekolah, ada penugasan wajib beribadah di rumah ibadah. Dua dasa warsa terakhir ini pendidikan agama asal ada saja, tidak pelajaran pokok, berapapun nilainya tidak menjadi masalah dan tidak diuuji di ujian nasional.
Kedua, membangkitkan rasa malu berbuat salah, artinya orang yang pernah berbuat salah harus dipermalukan, kendati sudah dihukum, ada hukuman sosial, gejala dua dasa warsa terakhir ini, agak berbeda kita seringga membanggakan koruptor, menyambut koruptor sebagai pahlawan, setiap ada penamgkapan koruptor, dibuat seolah-olah itu politisasi kepada sang pejabat.
Rumah tangga sangat penting dalam pendidikan moral, etika adan agama, pendidikan etika di rumah tangga lebih tertuju pada tata pergaulan, bagaimana bekomunikasi dengan orang lain, etika berpakaian, etika makan dan lain sebagainya, tetapi jauh lebih penting adalah pendidikan moral, sehingga dirumah becara moral, begitu juga di tempat ibadah, sekolah dan masyarakat.
Pendidikan bukan sekadar pengajaran, pendidikan adalah dengan kegiatan dan contoh nyata. Kendati sulit kalau pendidikan moral menjadi kegiatan bersam, satu generasi akan menjadi bangsa yang jujur. Semoga. [Jambi, 3 Maret 2010]***
Sabtu, 09 Oktober 2010
Rabu, 16 Juni 2010
DEBAT CAGUB PROVINSI JAMBI MENGECEWAKAN
Pada hari ini Selasa 14 Juni 2010, malam melalui siaran langsun MetroTv, diselenggarakan depat terbuka para calon gubernur Jambi perode 2010-2015 dengan siran langsung. Kalau diperhatikan cara menanggapi pertanyaan para panelis, terkesan sangat memprihatikan. Karena hampir seluruhmya berprilaku, jago kilik, tetapi bisa menendan kearah gawan. Ada seorang panelis yang mengajukan pertanyaan yang diyakin akan bisa dijam dengan “cantik” yang akan bisa membantu cagub dimaksud, namum sang kandidat juga bisa dijawab dengan “cantik” pula, tenyata tidak, akhirnya sanga penanya tertunduk lesu, karena sudah diberi umpan yang baik, tetapi sang kandidat tidak dapat menendang sampai gol, malah bolanya menggelinding keluar lapangan.
Suatu yang menarik adalah para candidat tersebut mempertontonkan kehebat mereka bersilat lidah, penelis bertanya, kandidat menjawab, semua pertanyaan dijawab dengan lengkap, kecuali yang ditanya. Hebatkan, (aneh tapi nyata)
Yang menarik lagi adalah ditanyakan tentang beranikan para kandidat mengundurkan diri kalau janji politik tidak mampu diwujukan, tidak jawaban yang tegas dan lugas, tetapi dari semuanya dapat disimpulkan, mereka tidak akan mundur, kalau janji tidak dipenuhi, dan meyakinkanlah bagi saya semuanya sudah berbiat jang sudah diyakini tidak bisa dipenuhi (janji gombal gambul untuk menang saja pilkada saja.
Satu pasangan ada yang bersedia menyerahkan jabatan, kalau ada tuntutan rakyat ia mundur (minta di demo, baru ia mundur ? barang kali.
Yang mengelikan lagi adalah debat calon gubernur melalau siaran langsung MetroTv, dimana pemirsanya terbatas, dan biaya sangat maha. Akan lebih baiki digunakan semua tivi daerah, yang serempak atau dengan siaran tunda, melalui rekaman tanpan edit (seolah-olah live).
Yang menarik bagi saya adalah terjadi “demkrasi aneh”, tidak jelas platform dari sepesang kandidat, yang ada jual kecap no 1, dia yang paling dalam segala hah, payah. (Jambi, 14 Juni 2010)
Suatu yang menarik adalah para candidat tersebut mempertontonkan kehebat mereka bersilat lidah, penelis bertanya, kandidat menjawab, semua pertanyaan dijawab dengan lengkap, kecuali yang ditanya. Hebatkan, (aneh tapi nyata)
Yang menarik lagi adalah ditanyakan tentang beranikan para kandidat mengundurkan diri kalau janji politik tidak mampu diwujukan, tidak jawaban yang tegas dan lugas, tetapi dari semuanya dapat disimpulkan, mereka tidak akan mundur, kalau janji tidak dipenuhi, dan meyakinkanlah bagi saya semuanya sudah berbiat jang sudah diyakini tidak bisa dipenuhi (janji gombal gambul untuk menang saja pilkada saja.
Satu pasangan ada yang bersedia menyerahkan jabatan, kalau ada tuntutan rakyat ia mundur (minta di demo, baru ia mundur ? barang kali.
Yang mengelikan lagi adalah debat calon gubernur melalau siaran langsung MetroTv, dimana pemirsanya terbatas, dan biaya sangat maha. Akan lebih baiki digunakan semua tivi daerah, yang serempak atau dengan siaran tunda, melalui rekaman tanpan edit (seolah-olah live).
Yang menarik bagi saya adalah terjadi “demkrasi aneh”, tidak jelas platform dari sepesang kandidat, yang ada jual kecap no 1, dia yang paling dalam segala hah, payah. (Jambi, 14 Juni 2010)
Jumat, 13 November 2009
Info Dari Pengasuh
Kepada Peminat Info Karet Alam Indonesia.
Pertama tama saya mengucapkan terima kasih, atas kesediaan Anda membaca blog Info karet Alam Indonesia, dengan pengunjung rata-rata 20-30 perhari, serta komenentar dan informasi mengenai karet alam, semoga bermanfaat bagi kita semua.
akhir_akhir ini, karena kesibukan di lapangan, saya jarang membuka blog ini, kepada anda yang membutuhkan informasi dari saya sebaiknya melalui email saya saja, dasrildaniel@yahoo.co.id, insyaallah, akan saya respon secepatnya, karena saya bisa menggunakan telpon genggam.
demikian, atas perhatian anda, saya ucapkan terima kasih
Pertama tama saya mengucapkan terima kasih, atas kesediaan Anda membaca blog Info karet Alam Indonesia, dengan pengunjung rata-rata 20-30 perhari, serta komenentar dan informasi mengenai karet alam, semoga bermanfaat bagi kita semua.
akhir_akhir ini, karena kesibukan di lapangan, saya jarang membuka blog ini, kepada anda yang membutuhkan informasi dari saya sebaiknya melalui email saya saja, dasrildaniel@yahoo.co.id, insyaallah, akan saya respon secepatnya, karena saya bisa menggunakan telpon genggam.
demikian, atas perhatian anda, saya ucapkan terima kasih
Senin, 22 Juni 2009
Usaha Karet Sarolangun
Usaha Karet Sarolangun Terancam Dimoanopoli Pihak Luar
SAROLANGUN – Tampaknya Pemerintah Kabupaten (pemkab) Sarolangun harus serius menyikapi persoalan perdagangan karet yang diduga bakal dimonopoli oleh kelompok tertentu. Dugaan monopoli itu dengan cara mendirikan gudang di Kecamatan Pelawan.
Dengan demikian pemilik pangkalan karet yang merupakan pedagang kecil dan menengah terancam gulung tikar, karena ada indikasi permainan antara pemiliki gudang dengan pabrik karet di Kabupaten Sarolangun dan sekitar.
H. Mansur pemilik pangkalan di Tanjung Rambai saat dikonfirmasi mengakui keresahan rekan-rekan pemilik pangkalan dengan hadirnya gudang karet di Simpang Desa Sungai Merah Kecamatan Pelawan. Keresahan itu cukup masuk akal, karena monopoli sangat rentan terjadi dengan berbagai cara dan tehnis politis ekonomi.
Menurut H Mansur, pemiliki modal silahkan melalui pabrik memberikan harga dasar kepada pemilik pangkalan karet dalam wilayah Sarolangun, sehingga sebagian karet bisa didrop. Kalau pemilik gudang bermain dengan cara membeli karet hingga ke desa-desa kepada petani, maka pemilik pangkalan gulung tikar.
“Kita bisa bayangkan pemodal turun ke desa membeli karet, maka sudah pasti pangkalan tidak bisa bersaing sehingga tutup buku. Imbasnya sangat jelas, angka pengangguran akan meningkat karena tidak bisa lagi dipekerjakan,” bebernya.
Untuk mengantisipasi hadirnya monopoli perdagangan karet, H Mansur dalam waktu dekat bakal melayangkan surat keberatan kepada Bupati Sarolangun untuk tidak mengeluarkan izin pembangunan dan pendirian gudang. “Semua pangkalan tidak menerima kehadiran pangakalan karena berakibat fatal, kita kasihan melihat karyawan yang tak bisa lagi dipekerjakan karena pangkalan tak mampu bertahan, tentu imbas-imbas yang tidak diinginkan tak dapat dielakkan,” bebernya.
Sikap H Mansur didukung semua pemilik pangkalan. Diantaranya H Samosir Lubuk Sepuh, Sabaruddin Singkut 7, Sunyono Singkut 7, Effendi Pulau Pandan, Ilham Lubis Rantau Tenang, Suri Rantau Tenang, H Rosidin Singkut III, H Rusli dan pemilik pangkalan lainnya.
Surat keberatan tersebut ditembuskan kepada pejabat yang berwenang diantaranya Ketua DPRD, Kadis Perindagkop, Kepala KPTSP, Kadis Tata Kota, Camat Pelawan dan Kades Sungai Merah. (infojambi.com/AIR) Selasa, 23/06/2009 | 00:57 WIB
SAROLANGUN – Tampaknya Pemerintah Kabupaten (pemkab) Sarolangun harus serius menyikapi persoalan perdagangan karet yang diduga bakal dimonopoli oleh kelompok tertentu. Dugaan monopoli itu dengan cara mendirikan gudang di Kecamatan Pelawan.
Dengan demikian pemilik pangkalan karet yang merupakan pedagang kecil dan menengah terancam gulung tikar, karena ada indikasi permainan antara pemiliki gudang dengan pabrik karet di Kabupaten Sarolangun dan sekitar.
H. Mansur pemilik pangkalan di Tanjung Rambai saat dikonfirmasi mengakui keresahan rekan-rekan pemilik pangkalan dengan hadirnya gudang karet di Simpang Desa Sungai Merah Kecamatan Pelawan. Keresahan itu cukup masuk akal, karena monopoli sangat rentan terjadi dengan berbagai cara dan tehnis politis ekonomi.
Menurut H Mansur, pemiliki modal silahkan melalui pabrik memberikan harga dasar kepada pemilik pangkalan karet dalam wilayah Sarolangun, sehingga sebagian karet bisa didrop. Kalau pemilik gudang bermain dengan cara membeli karet hingga ke desa-desa kepada petani, maka pemilik pangkalan gulung tikar.
“Kita bisa bayangkan pemodal turun ke desa membeli karet, maka sudah pasti pangkalan tidak bisa bersaing sehingga tutup buku. Imbasnya sangat jelas, angka pengangguran akan meningkat karena tidak bisa lagi dipekerjakan,” bebernya.
Untuk mengantisipasi hadirnya monopoli perdagangan karet, H Mansur dalam waktu dekat bakal melayangkan surat keberatan kepada Bupati Sarolangun untuk tidak mengeluarkan izin pembangunan dan pendirian gudang. “Semua pangkalan tidak menerima kehadiran pangakalan karena berakibat fatal, kita kasihan melihat karyawan yang tak bisa lagi dipekerjakan karena pangkalan tak mampu bertahan, tentu imbas-imbas yang tidak diinginkan tak dapat dielakkan,” bebernya.
Sikap H Mansur didukung semua pemilik pangkalan. Diantaranya H Samosir Lubuk Sepuh, Sabaruddin Singkut 7, Sunyono Singkut 7, Effendi Pulau Pandan, Ilham Lubis Rantau Tenang, Suri Rantau Tenang, H Rosidin Singkut III, H Rusli dan pemilik pangkalan lainnya.
Surat keberatan tersebut ditembuskan kepada pejabat yang berwenang diantaranya Ketua DPRD, Kadis Perindagkop, Kepala KPTSP, Kadis Tata Kota, Camat Pelawan dan Kades Sungai Merah. (infojambi.com/AIR) Selasa, 23/06/2009 | 00:57 WIB
Kamis, 18 Juni 2009
Pengembangan Kebun Karet Rakyat Terus Berlanjut
MUAROTEBO - Pengembangan kebun karet rakyat untuk Kabupaten Tebo terus berlanjut. Hal ini ini dilakukan sebagai bentuk upaya dalam rangka menunjang pilar pembangunan salah satunya adalah ekonomi kerakyatan, untuk tahun 2009 ini rencana replanting karet rakyat akan di lakukan dengan luas total seluruhnya sebanyak 2.975 Ha, masing-masing dengan dana yang diambil dari APBD Kabupaten Tebo seluas 400 Ha, dari APBD Provinsi seluas 2.500 Ha dan dari APBN (Dana Tugas Pembantu) seluas 75 Ha.
Hal ini disampaikan oleh Bupati Tebo Drs.H.A.Majid Muas MM dalam suatu kunjungan kerja di salah satu desa terpencil di Tebo. “Program pengembangan kebun karet ini akan terus dilanjutkan pada tahun yang akan datang baik dengan dana APBD Kabupaten Tebo, APBD Provinsi dan APBN guna menunjang pilar pembangunan salah satunya adalah ekonomi kerakyatan,” ungkap Bupati.
Bupati menjelaskan, program pengembangan kebun karet rakyat ini khusus di Kabupaten Tebo sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2001 lalu dengan sumber dana dari APBD Kabupaten Tebo dengan luas 108 Ha, kemudian dilanjutkan tahun 2002 seluas 750 Ha, tahun 2003 seluas 895 Ha, tahun 2004 seluas 650 ha, tahun 2005 seluas 600 Ha, tahun 2007 seluas 300 Ha dan tahun 2008 seluas 660 Ha.
“Untuk tahun 2006/2007 kegiatan pengembangan kebun karet ini didanai oleh APBD Provinsi seluas 2.402 Ha dan tahun 2008 seluas 400 Ha sedangkan dari APBN tahun 2008 seluas 105 Ha,” beber Bupati lagi.
Sehingga Bupati menyebutkan total luas pengembangan kebun karet rakyat di Kabupaten Tebo sampai dengan tahun 2008 adalah seluas 6.870 ha yang tersebar di seluruh wilayah Desa dan Kecamatan yang ada di Kabupaten Tebo, dan ini akan dilakukan terus secara bertahap tahun 2009 ini. (infojambi.com/SUK)
Sumber: Infojambi.com, Jumat, 19/06/2009
Hal ini disampaikan oleh Bupati Tebo Drs.H.A.Majid Muas MM dalam suatu kunjungan kerja di salah satu desa terpencil di Tebo. “Program pengembangan kebun karet ini akan terus dilanjutkan pada tahun yang akan datang baik dengan dana APBD Kabupaten Tebo, APBD Provinsi dan APBN guna menunjang pilar pembangunan salah satunya adalah ekonomi kerakyatan,” ungkap Bupati.
Bupati menjelaskan, program pengembangan kebun karet rakyat ini khusus di Kabupaten Tebo sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2001 lalu dengan sumber dana dari APBD Kabupaten Tebo dengan luas 108 Ha, kemudian dilanjutkan tahun 2002 seluas 750 Ha, tahun 2003 seluas 895 Ha, tahun 2004 seluas 650 ha, tahun 2005 seluas 600 Ha, tahun 2007 seluas 300 Ha dan tahun 2008 seluas 660 Ha.
“Untuk tahun 2006/2007 kegiatan pengembangan kebun karet ini didanai oleh APBD Provinsi seluas 2.402 Ha dan tahun 2008 seluas 400 Ha sedangkan dari APBN tahun 2008 seluas 105 Ha,” beber Bupati lagi.
Sehingga Bupati menyebutkan total luas pengembangan kebun karet rakyat di Kabupaten Tebo sampai dengan tahun 2008 adalah seluas 6.870 ha yang tersebar di seluruh wilayah Desa dan Kecamatan yang ada di Kabupaten Tebo, dan ini akan dilakukan terus secara bertahap tahun 2009 ini. (infojambi.com/SUK)
Sumber: Infojambi.com, Jumat, 19/06/2009
Jumat, 29 Mei 2009
CERITA FIKRI TENTANG PASAR LELANG KARET
Kira-kira satu minggu yang lalu, seorang teman anak saya namanya Fikri, seorang anak desa kost di Jambi, kuliah di Fakultas Peternakan, Universitas Jambi, bercerita tentang keluarganya. Bapaknya bernama Lukman, S. Pd, berjuang mendapat gelar S1, di UT, karena mengajar di SMA Negeri 2 Tanah Sepenggal Desa Tanah Periuk, Kec Tanah Sepenggal Lintas Kabupaten Bungo, tetapi dia sekarang sudah pensiun. Fikri juga bercerita tentang bundanya, yang petani karet dengan segala dinamikanya, banyak hal yang ia ceritakan tentang perkebunan karet, pada saat ini yang akan saya tulis, cerita Fikri tentang ibunya dan Pasar Lelang Karet.
Ibunya bernama Umi Salmah tinggal di Desa Tanah Periuk, Kec Tanah Sepenggal, Kab Bungo, yang berjarak 1 km dari Pasar Lelang Karet Desa Lubuk Landai, kecamatan yang sama.
Menurut Fikri, ibunya disiplin tentang mutu karet, beliau tidak mau mencampur bekuan karetnya dengan benda asing seperti sampah, tanah dan kain sebagainya, karena hal itu sama dengan menipu, menipu itu haram, besar dosanya, membuat karet kotor itu sama dengan menzalimi orang lain, dengan siapa minta maaf.
Sebelum ada pasar lelang, keluarganya menjual karet tersebut kepada pedagang pengumpul yang ada didesa, baik yang menetap maupun yang datang pada hari menimbang (suatu hari tertentu, sekali dua minggu sesuai kebiasaan petani di Provinsi Jambi), ibunya selalu kecewa karena karena karet bersih yang dihasilkannya dihargai sama dengan karet kotor dihasilkan yang lain, kemudian timbangan waktu transaksi berbeda jauh dari perkirakan. Mau menuntut kepada siapa ketidak adilan tersebut, beralih kepada pedagang mana, semuanya sama saja.
Setelah ada pasar lelang, ibunya selalu menjual kepasar lelang, dan kalau kebetulan libur kuliah, Fikri pulang kampung maka diajak Sang Emak untuk menemani ke Pasar Lelang, disitu Fikri merasakan kebahagiaan emaknya, karena dipasar lelang Emak bisa bertemu dengan teman-teman lain desa untuk bercengkrama sambil menikmati jajanan di sekitar Pasar Lelang. Ibundanya tersebut telah bisa menaksir berapa harga yang akan diterima karena ada harga indikasi yang diterbitkan oleh Dinas Perindag Kabupaten Bungo. Kemudian kebahagian lain datang setelah diumumkan harga penawaran tertinggi, kebahagian itu adalah harga karet emak Fikri sering mendapat harga tertinggi dibanding dari harga karet petani lain, karena karetnya sudah dikenal bersih, konsisten tidak pernah ada yang kotoran atau benda asing, dan homogen, semua lembaran karetnya sama bersihnya. Keteguhan imannya dan kejujuran dalam mengolah karet dihargai pantas, tidak seperti sebelum adanya Pasar Lelang,
Pada awal-awal berdirinya Pasar Lelang, setiap sudah pengumunan hasil lelang Ibu Umi Salmah, bertindak sebagai “PPL Perkebunan” untuk melayani pertanyaan petani lain, mengapa harga karetnya tertinggi ? bagaimanan membuat bahan olah karet yang baik? Bisa terjadi diskusi hangat, ujung-ujungnya berbisnis karet yang jujur.
Fikri mengatakan, petani mengantar karetnya pagi hari dan, penimbangan bisa dilakukan pada sore hari sesuai giliran, kendati lama petani sabar menanti, atau sesudah karet diantar kepasar lelang, petani melanjutkan kegiatan, sedang untuk transaksi dititipa saja kepada tetangga. Petani tidak ragu keamanan karet dipasar lelang dijamin pengurus lelang, waktu penimbangan, dan trasakasi tidak perlu hadir sendiri, bisa diwakilkan kepada tetangga, dokumen (bon timbang) yang dikeluarkan pengurus valid, dan banyak saksi, jadi petani bergantian saja mewakili pada transaksi tidak menjadi masalah.
Keunggulan pasar lelang adalah harga jual jauh lebih tinggi dibanding harga diluar pasar lelang, mutu karet sangat menentukan harga, timbangan jujur, semua pungutan resmi, dibanding dengan perbedaab harga, pungutan yang rendah untuk operasional lelang tidak menjadi masalah.
Mendengar cerita Fikri, saya temenung, pikiran saya menerawang ke Bungo, ingat teman saya yang bernama SUMEDI, petugas lapangan Disperindag Kab Bungo, yang rajin ke desa-desa di kabupaten tersebut, tidak tahu hujan atau terik matahari, honor yang tidak seberapa namun sabar berhadapan dengan petani, “Pahlawan Pasar Lelang Karet” Kab Bungo, entah dimana dia sekarang, sudah lama kami tidak berkomunikasi.
Penerawangan pikiran saya, adalah suatu kendala di Pasar Lelang Karet Pedesaan, kalau vulumenya besar, penimbangan dan trasaksi bisa sampai malam, besar kecilnya volume karet yang dijual petani di pasar lelang tergantung dengan musim yaitu penghujan atau kemarau, banyaknya hari menyadap pada satu periode pasar.
Pasar lelang karet suatu lembaga lembaga pemasaran karet yang memberikan nilai tambah langsung kepada petani, dan dirasakan manfaatnya, sehingga pasar lelang di Provinsi Jambi, semenjak didirikan hampir tidak ada yang tutup, di Desa Panerokan Kabupaten Batanghari dan Bukit Baling, kabupaten Muaro Jambi, sudah berusia 20 tahun.
Lebih tingginya harga di pasar lelang, dibanding dengan pedagang pengumpul karena ada efisiensi yang didapat melalui sistem lelang, teransparan dan adanya persaing fair diantara pedagang yang membeli melalui lelang.
Teringat masa lalu tahun 1989, merintis pertama pasar lelang di Provinsi Jambi, masa sulit karena banyak teman yang sinis dan skeptis tentang konsep pasar lelang karet di pedesaan, namun ada beberapa teman dan pejabat yang berkeyakinan konsep pasar lelang itu adalah konsep yang terbaik untuk meningkatkan pendapatan petani langsung dipedesaa, melalui peningkatan mutu karet, pewajaran harga, efisiensi dan tranparansi pasar.
Dengan merintis pasar lelang karet, saya mondar-mandir masuk desa keluar desa, dari ruang diskusi, keruang seminar dan lokakarya bersama Prof Dr Bungaran Saragih dan Dr Ir. Bayu Krisnamurti di awal tahu sembilan puluhan. Sekarang pasar lelang karet telah berkembang di Provinsi Jambi, dan berbagai sentra karet di luar Provinsi Jambi.
Saya dikejutkan oleh Sdr Fikri yang memecah lamunan saya, “mengapa bapak melamun”, “saya teringat keluarga petani di desa yang belum ada pasar lelang, yang masih menerima harga yang kurang layak, mutu bokarnya masih buruk, dan suatu saat saya akan dapat melihat pasar lelang di Desa Lubuk Landai tersebut” jawab saya tergagap.
Kalau saya tidak salah, Pasar Lelang Lubuk Landai itu merupakan pasar lelang ke lima di Provinsi Jambi, tersebut yang pernah saya kunjungi belasan tahun yang lalu untuk mempersiapkan berdirinya pasar lelang tersebut, Fikri-Man tidak tahu itu, anak saya senyum-senyum mendengar saya seperti orang yang tidak tahu pasar lelang karet menanyai Fikri. Saat ini pasar lelang karet di Provinsi Jambi ada sekitar 20 unit atau di 20 desa. (Dasril Daniel, Jambi, 30 Mei 2009).
Ibunya bernama Umi Salmah tinggal di Desa Tanah Periuk, Kec Tanah Sepenggal, Kab Bungo, yang berjarak 1 km dari Pasar Lelang Karet Desa Lubuk Landai, kecamatan yang sama.
Menurut Fikri, ibunya disiplin tentang mutu karet, beliau tidak mau mencampur bekuan karetnya dengan benda asing seperti sampah, tanah dan kain sebagainya, karena hal itu sama dengan menipu, menipu itu haram, besar dosanya, membuat karet kotor itu sama dengan menzalimi orang lain, dengan siapa minta maaf.
Sebelum ada pasar lelang, keluarganya menjual karet tersebut kepada pedagang pengumpul yang ada didesa, baik yang menetap maupun yang datang pada hari menimbang (suatu hari tertentu, sekali dua minggu sesuai kebiasaan petani di Provinsi Jambi), ibunya selalu kecewa karena karena karet bersih yang dihasilkannya dihargai sama dengan karet kotor dihasilkan yang lain, kemudian timbangan waktu transaksi berbeda jauh dari perkirakan. Mau menuntut kepada siapa ketidak adilan tersebut, beralih kepada pedagang mana, semuanya sama saja.
Setelah ada pasar lelang, ibunya selalu menjual kepasar lelang, dan kalau kebetulan libur kuliah, Fikri pulang kampung maka diajak Sang Emak untuk menemani ke Pasar Lelang, disitu Fikri merasakan kebahagiaan emaknya, karena dipasar lelang Emak bisa bertemu dengan teman-teman lain desa untuk bercengkrama sambil menikmati jajanan di sekitar Pasar Lelang. Ibundanya tersebut telah bisa menaksir berapa harga yang akan diterima karena ada harga indikasi yang diterbitkan oleh Dinas Perindag Kabupaten Bungo. Kemudian kebahagian lain datang setelah diumumkan harga penawaran tertinggi, kebahagian itu adalah harga karet emak Fikri sering mendapat harga tertinggi dibanding dari harga karet petani lain, karena karetnya sudah dikenal bersih, konsisten tidak pernah ada yang kotoran atau benda asing, dan homogen, semua lembaran karetnya sama bersihnya. Keteguhan imannya dan kejujuran dalam mengolah karet dihargai pantas, tidak seperti sebelum adanya Pasar Lelang,
Pada awal-awal berdirinya Pasar Lelang, setiap sudah pengumunan hasil lelang Ibu Umi Salmah, bertindak sebagai “PPL Perkebunan” untuk melayani pertanyaan petani lain, mengapa harga karetnya tertinggi ? bagaimanan membuat bahan olah karet yang baik? Bisa terjadi diskusi hangat, ujung-ujungnya berbisnis karet yang jujur.
Fikri mengatakan, petani mengantar karetnya pagi hari dan, penimbangan bisa dilakukan pada sore hari sesuai giliran, kendati lama petani sabar menanti, atau sesudah karet diantar kepasar lelang, petani melanjutkan kegiatan, sedang untuk transaksi dititipa saja kepada tetangga. Petani tidak ragu keamanan karet dipasar lelang dijamin pengurus lelang, waktu penimbangan, dan trasakasi tidak perlu hadir sendiri, bisa diwakilkan kepada tetangga, dokumen (bon timbang) yang dikeluarkan pengurus valid, dan banyak saksi, jadi petani bergantian saja mewakili pada transaksi tidak menjadi masalah.
Keunggulan pasar lelang adalah harga jual jauh lebih tinggi dibanding harga diluar pasar lelang, mutu karet sangat menentukan harga, timbangan jujur, semua pungutan resmi, dibanding dengan perbedaab harga, pungutan yang rendah untuk operasional lelang tidak menjadi masalah.
Mendengar cerita Fikri, saya temenung, pikiran saya menerawang ke Bungo, ingat teman saya yang bernama SUMEDI, petugas lapangan Disperindag Kab Bungo, yang rajin ke desa-desa di kabupaten tersebut, tidak tahu hujan atau terik matahari, honor yang tidak seberapa namun sabar berhadapan dengan petani, “Pahlawan Pasar Lelang Karet” Kab Bungo, entah dimana dia sekarang, sudah lama kami tidak berkomunikasi.
Penerawangan pikiran saya, adalah suatu kendala di Pasar Lelang Karet Pedesaan, kalau vulumenya besar, penimbangan dan trasaksi bisa sampai malam, besar kecilnya volume karet yang dijual petani di pasar lelang tergantung dengan musim yaitu penghujan atau kemarau, banyaknya hari menyadap pada satu periode pasar.
Pasar lelang karet suatu lembaga lembaga pemasaran karet yang memberikan nilai tambah langsung kepada petani, dan dirasakan manfaatnya, sehingga pasar lelang di Provinsi Jambi, semenjak didirikan hampir tidak ada yang tutup, di Desa Panerokan Kabupaten Batanghari dan Bukit Baling, kabupaten Muaro Jambi, sudah berusia 20 tahun.
Lebih tingginya harga di pasar lelang, dibanding dengan pedagang pengumpul karena ada efisiensi yang didapat melalui sistem lelang, teransparan dan adanya persaing fair diantara pedagang yang membeli melalui lelang.
Teringat masa lalu tahun 1989, merintis pertama pasar lelang di Provinsi Jambi, masa sulit karena banyak teman yang sinis dan skeptis tentang konsep pasar lelang karet di pedesaan, namun ada beberapa teman dan pejabat yang berkeyakinan konsep pasar lelang itu adalah konsep yang terbaik untuk meningkatkan pendapatan petani langsung dipedesaa, melalui peningkatan mutu karet, pewajaran harga, efisiensi dan tranparansi pasar.
Dengan merintis pasar lelang karet, saya mondar-mandir masuk desa keluar desa, dari ruang diskusi, keruang seminar dan lokakarya bersama Prof Dr Bungaran Saragih dan Dr Ir. Bayu Krisnamurti di awal tahu sembilan puluhan. Sekarang pasar lelang karet telah berkembang di Provinsi Jambi, dan berbagai sentra karet di luar Provinsi Jambi.
Saya dikejutkan oleh Sdr Fikri yang memecah lamunan saya, “mengapa bapak melamun”, “saya teringat keluarga petani di desa yang belum ada pasar lelang, yang masih menerima harga yang kurang layak, mutu bokarnya masih buruk, dan suatu saat saya akan dapat melihat pasar lelang di Desa Lubuk Landai tersebut” jawab saya tergagap.
Kalau saya tidak salah, Pasar Lelang Lubuk Landai itu merupakan pasar lelang ke lima di Provinsi Jambi, tersebut yang pernah saya kunjungi belasan tahun yang lalu untuk mempersiapkan berdirinya pasar lelang tersebut, Fikri-Man tidak tahu itu, anak saya senyum-senyum mendengar saya seperti orang yang tidak tahu pasar lelang karet menanyai Fikri. Saat ini pasar lelang karet di Provinsi Jambi ada sekitar 20 unit atau di 20 desa. (Dasril Daniel, Jambi, 30 Mei 2009).
Senin, 25 Mei 2009
PERMINTAAN KARET KOMPON
Saya, atau INFO KARET ALAM INDONESIA, mendapat sebua e-mail dari sdr Ir. Muhammad Rizal , yang bunyinya sebagai berikut:
Dengan hormat,
Pa' Dasril, setelah membaca ulasan bapak mengenai karet alam indonesia. Saya bermaksud untuk mencari informasi dimana penghasil karet yang sudah berupa kompon untuk dijual. Mungkin bapak mempunyai informasi dimana penjualnya? adapun karet kompon tersebut akan digunakan untuk pabrik ban.
Demikian pertanyaan saya, terima kasih atas perhatian Bapak
Hormat Saya,
Ir. Muhammad Rizal
Kalau ada diantara pembaca yang mempunyai informasi, dapat menghubungi Sdr Muhammad Rizal melalui e-mail rizal18@cbn.net.id
Terima kasih
Dengan hormat,
Pa' Dasril, setelah membaca ulasan bapak mengenai karet alam indonesia. Saya bermaksud untuk mencari informasi dimana penghasil karet yang sudah berupa kompon untuk dijual. Mungkin bapak mempunyai informasi dimana penjualnya? adapun karet kompon tersebut akan digunakan untuk pabrik ban.
Demikian pertanyaan saya, terima kasih atas perhatian Bapak
Hormat Saya,
Ir. Muhammad Rizal
Kalau ada diantara pembaca yang mempunyai informasi, dapat menghubungi Sdr Muhammad Rizal melalui e-mail rizal18@cbn.net.id
Terima kasih
Selasa, 05 Mei 2009
KARET ALAM
Karet alam adalah jenis karet pertama yang dibuat sepatu. Sesudah penemuan proses vulkanisasi yang membuat karet menjadi tahan terhadap cuaca dan tidak larut dalam minyak, maka karet mulai digemari sebagai bahan dasar dalam pembuatan berbagai macam alat untuk keperluan dalam rumah ataupun pemakaian di luar rumah seperti sol sepatu dan bahkan sepatu yang semuanya terbuat dari bahan karet. Sebelum itu usaha-usaha menggunakan karet untuk sepatu selalu gagal karena karet manjadi kaku di musim hujan dan lengket serta berbau di musim panas seperti yang pernah dilakukan oleh Roxbury Indian Rubber Company pada tahun 1833 dengan cara melarutkan karet alam terpentin dan mencampurnya dengan hitam karbon untuk menghasilkan karet keras yang tahan air
Struktur dasar karet alam adalah rantai linear unit isoprene (C5H8) yang berat molekul rata-ratanya tersebar antara 10.000 - 400.000.
Sifat-sifat mekanik yang baik dari karet alam menyebabkannya dapat digunakan untuk berbagai keperluan umum seperti sol sepatu dan telapak ban kendaraan. Pada suhu kamar, karet tidak berbentuk Kristal padat dan juga tidak berbentuk cairan.
Perbedaan karet dengan benda-benda lain, tampak nyata pada sifat karet yang lembut, fleksibel dan elastis. Sifat-sifat ini memberi kesan bahwa karet alam adalah suatu bahan semi cairan alamiah atau suatu cairan dengan kekentalan yang sangat tinggi.Namun begitu, sifat-sifat mekaniknya menyerupai kulit binatang sehingga harus dimastikasi untuk memutus rantai molekulnya agar menjadi lebih pendek.
Proses mastikasi ini mengurangi keliatan atau viskositas karet alam sehingga akan memudahkan proses selanjutnya saat bahan-bahan lain ditambahkan.
Banyak sifat-sifat karet alam ini yang dapat memberikan keuntungan atau kemudahan dalam proses pengerjaan dan pemakaiannya, baik dalam bentuk karet atau kompon maupun dalam bentuk vulkanisat.
Dalam bentuk bahan mentah, karet alam sangat disukai karena mudah menggulung pada roll sewaktu diproses dengan open mill/penggiling terbuka dan dapat mudah bercampur dengan berbagai bahan-bahan yang diperlukan di dalam pembuatan kompon. Dalam bentuk kompon, karet alam sangat mudah dilengketkan satu sama lain sehingga sangat disukai dalam pembuatan barang-barang yang perlu dilapis-lapiskan sebelum vulkanisasi dilakukan.
Keunggulan daya lengket inilah yang menyebabkan karet alam sulit disaingi oleh karet sintetik dalam pembuatan karkas untuk ban radial ataupun dalam pembuatan sol karet yang sepatunya diproduksi dengan cara vulkanisasi langsung.
Vulkanisasi karet alam sangat baik dalam hal-hal berikut:
• Kepegasan pantul
Hal ini menyebabkan timbulnya kalor (heat build up) rendah, yang sangat diperlukan oleh barang jadi karet yang akan mengalami hentakan berulang-ulang.
Sifat inilah yang menyebabkan karet alam selalu dipakai dalam pembuatan ban truk dan kapal terbang yang sulit disaingi oleh karet sintetik.
• Tegangan putus
• Ketahanan sobek dan kikis
• Fleksibilitas pada suhu rendah
• Daya lengket ke fabric atau logam
Sol sepatu sangat memerlukan sifat-sifat tersebut di atas, karena itu karet alam adalah pilihan sangat tepat. Secara umum sol sepatu membutuhkan kekuatan, ketahanan kikis, dan ketahanan sobek yang tinggi. Vulkanisat karet alam kuat dan tahan lama bahkan dapat digunakan pada suhu -60°F. Karet alam bisa dibuat menjadi karet yang agak kaku tetapi masih mempunyai fleksibilitas dan ketahanan kikis, ketahanan retak lentur serta kekuatan tinggi. Hal ini menguntungkan dalam pembuatan sol sepatu karena sol sepatu bisa dibuat tipis (seperti sol luar sepatu olahraga), sambil tetap menjaga agar tidak merasakan batu sewaktu berjalan.
Untuk menurunkan ongkos produksi, selain karet alam, kompon sol berwarna hitam bisa ditambah dengan karet reclaim dan bekas vulkanisat yang tidak terpakai yang banyak terdapat di pabrik. Untuk kompon putih, yang dipakai haruslah karet reclaim putih dan bekas vulkanisat putih juga.
Kekakuan vulkanisat dapat ditingkatkan dengan penambahan resin dengan kadar styrene yang tinggi dan diperhitungkan sebagai jumlah karet. Perlu diingat utnuk keperluan eksport hendaklah kompon yang baik, yaitu yang mengandung bahan-bahan yang baik pula yang dipakai.
Walapupun kalor yang timbul dari karet alam lebih rendah dari karet sintetik seperti SBR, tetapi karet alam agak kurang tahan terhadap panas dibanding SBR. Karet alam tidak tahan ozon dan cahaya matahari. Ketahanan terhadap minyak dan pelarut hydrocarbon sangat buruk.
Kandungan Alami Karet Mentah
Karet alam mengandung beberapa bahan antara lain: karet hidrokarbon, protein, lipid netral, lipid polar, karbohidrat, garam anorganik, dll.
Protein dalam karet alam dapat mempercepat vulkanisasi atau menarik air dalam vulkanisat. Beberapa lipid ada yang merupakan bahan pencepat atau antioksidan. Protein juga dapat meningkatkan heat build up tetapi dapat juga meningkatkan ketahanan sobek.
Karet alam lama kelamaan dapat meningkat viskositasnya atau menjadi keras. Ada jenis karet alam yang sudah ditambah bahan garam hidroksilamin sehingga tidak bisa mengeras dan disebut karet CV (contant viscosity). Karet alam bisa mengkristal pada suhu rendah (misalkan -26°C) dan bila ini terjadi, diperlukan pemanasan karet sebelum diolah pabrik barang jadi karet.
Sumber: http://industrikaret.wordpress.com/2008/05/12/hello-world/
Struktur dasar karet alam adalah rantai linear unit isoprene (C5H8) yang berat molekul rata-ratanya tersebar antara 10.000 - 400.000.
Sifat-sifat mekanik yang baik dari karet alam menyebabkannya dapat digunakan untuk berbagai keperluan umum seperti sol sepatu dan telapak ban kendaraan. Pada suhu kamar, karet tidak berbentuk Kristal padat dan juga tidak berbentuk cairan.
Perbedaan karet dengan benda-benda lain, tampak nyata pada sifat karet yang lembut, fleksibel dan elastis. Sifat-sifat ini memberi kesan bahwa karet alam adalah suatu bahan semi cairan alamiah atau suatu cairan dengan kekentalan yang sangat tinggi.Namun begitu, sifat-sifat mekaniknya menyerupai kulit binatang sehingga harus dimastikasi untuk memutus rantai molekulnya agar menjadi lebih pendek.
Proses mastikasi ini mengurangi keliatan atau viskositas karet alam sehingga akan memudahkan proses selanjutnya saat bahan-bahan lain ditambahkan.
Banyak sifat-sifat karet alam ini yang dapat memberikan keuntungan atau kemudahan dalam proses pengerjaan dan pemakaiannya, baik dalam bentuk karet atau kompon maupun dalam bentuk vulkanisat.
Dalam bentuk bahan mentah, karet alam sangat disukai karena mudah menggulung pada roll sewaktu diproses dengan open mill/penggiling terbuka dan dapat mudah bercampur dengan berbagai bahan-bahan yang diperlukan di dalam pembuatan kompon. Dalam bentuk kompon, karet alam sangat mudah dilengketkan satu sama lain sehingga sangat disukai dalam pembuatan barang-barang yang perlu dilapis-lapiskan sebelum vulkanisasi dilakukan.
Keunggulan daya lengket inilah yang menyebabkan karet alam sulit disaingi oleh karet sintetik dalam pembuatan karkas untuk ban radial ataupun dalam pembuatan sol karet yang sepatunya diproduksi dengan cara vulkanisasi langsung.
Vulkanisasi karet alam sangat baik dalam hal-hal berikut:
• Kepegasan pantul
Hal ini menyebabkan timbulnya kalor (heat build up) rendah, yang sangat diperlukan oleh barang jadi karet yang akan mengalami hentakan berulang-ulang.
Sifat inilah yang menyebabkan karet alam selalu dipakai dalam pembuatan ban truk dan kapal terbang yang sulit disaingi oleh karet sintetik.
• Tegangan putus
• Ketahanan sobek dan kikis
• Fleksibilitas pada suhu rendah
• Daya lengket ke fabric atau logam
Sol sepatu sangat memerlukan sifat-sifat tersebut di atas, karena itu karet alam adalah pilihan sangat tepat. Secara umum sol sepatu membutuhkan kekuatan, ketahanan kikis, dan ketahanan sobek yang tinggi. Vulkanisat karet alam kuat dan tahan lama bahkan dapat digunakan pada suhu -60°F. Karet alam bisa dibuat menjadi karet yang agak kaku tetapi masih mempunyai fleksibilitas dan ketahanan kikis, ketahanan retak lentur serta kekuatan tinggi. Hal ini menguntungkan dalam pembuatan sol sepatu karena sol sepatu bisa dibuat tipis (seperti sol luar sepatu olahraga), sambil tetap menjaga agar tidak merasakan batu sewaktu berjalan.
Untuk menurunkan ongkos produksi, selain karet alam, kompon sol berwarna hitam bisa ditambah dengan karet reclaim dan bekas vulkanisat yang tidak terpakai yang banyak terdapat di pabrik. Untuk kompon putih, yang dipakai haruslah karet reclaim putih dan bekas vulkanisat putih juga.
Kekakuan vulkanisat dapat ditingkatkan dengan penambahan resin dengan kadar styrene yang tinggi dan diperhitungkan sebagai jumlah karet. Perlu diingat utnuk keperluan eksport hendaklah kompon yang baik, yaitu yang mengandung bahan-bahan yang baik pula yang dipakai.
Walapupun kalor yang timbul dari karet alam lebih rendah dari karet sintetik seperti SBR, tetapi karet alam agak kurang tahan terhadap panas dibanding SBR. Karet alam tidak tahan ozon dan cahaya matahari. Ketahanan terhadap minyak dan pelarut hydrocarbon sangat buruk.
Kandungan Alami Karet Mentah
Karet alam mengandung beberapa bahan antara lain: karet hidrokarbon, protein, lipid netral, lipid polar, karbohidrat, garam anorganik, dll.
Protein dalam karet alam dapat mempercepat vulkanisasi atau menarik air dalam vulkanisat. Beberapa lipid ada yang merupakan bahan pencepat atau antioksidan. Protein juga dapat meningkatkan heat build up tetapi dapat juga meningkatkan ketahanan sobek.
Karet alam lama kelamaan dapat meningkat viskositasnya atau menjadi keras. Ada jenis karet alam yang sudah ditambah bahan garam hidroksilamin sehingga tidak bisa mengeras dan disebut karet CV (contant viscosity). Karet alam bisa mengkristal pada suhu rendah (misalkan -26°C) dan bila ini terjadi, diperlukan pemanasan karet sebelum diolah pabrik barang jadi karet.
Sumber: http://industrikaret.wordpress.com/2008/05/12/hello-world/
Harga Ekspor Karet Mulai Membaik
Palembang, Kompas - Harga karet kualitas ekspor di Palembang, Senin (4/5), mengalami kenaikan dari Rp 15.020 per kg menjadi Rp 15.181 per kg. Kenaikan ini berlangsung terus sejak beberapa pekan terakhir.
Data Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Selatan di Palembang menunjukkan, dalam beberapa hari terakhir harga karet kualitas ekspor jenis SIR 20 di pasaran internasional mengalami kenaikan dibandingkan sebelumnya.
Beberapa pedagang pengumpul ketika ditemui sebelum transaksi di kawasan pabrik pengolahan karet kawasan Kertapati, Palembang, mengatakan, harga jual karet kualitas ekspor dalam sebulan terakhir memang sudah ada kenaikan, kemudian turun lagi dan seterusnya atau masih fluktuatif.
Harga karet kualitas ekspor mulai ada kenaikan sehingga ada pengaruhnya terhadap harga di tingkat petani yang juga ikut mengalami kenaikan.
”Harga karet di tingkat petani sekarang ini kisaran Rp 6.500 per kg atau mengalami kenaikan dibandingkan bulan lalu yang hanya Rp 5.500 per kg,” kata Muskar, pedagang pengumpul.
Menurut dia, harga karet di tingkat petani sekarang ini mulai membaik, tetapi masih jauh dari harga normal seperti pada tahun 2007.
Karena itu, dia berharap harga karet tersebut beberapa hari mendatang akan terus mengalami kenaikan. Dengan demikian, para petani yang sebagian besar hanya mengandalkan dari hasil salah satu komoditas andalan Sumsel tersebut tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Data Dinas Perkebunan Sumsel menunjukkan, luas areal perkebunan karet di provinsi tersebut hampir 1 juta hektar, tersebar di beberapa daerah penghasil, seperti Kabupaten Muara Enim, Musi Banyuasin, Lahat, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, dan Banyuasin.(ANTARA/BOY
Sumber : Kompas 5 Mei 2009
Data Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Selatan di Palembang menunjukkan, dalam beberapa hari terakhir harga karet kualitas ekspor jenis SIR 20 di pasaran internasional mengalami kenaikan dibandingkan sebelumnya.
Beberapa pedagang pengumpul ketika ditemui sebelum transaksi di kawasan pabrik pengolahan karet kawasan Kertapati, Palembang, mengatakan, harga jual karet kualitas ekspor dalam sebulan terakhir memang sudah ada kenaikan, kemudian turun lagi dan seterusnya atau masih fluktuatif.
Harga karet kualitas ekspor mulai ada kenaikan sehingga ada pengaruhnya terhadap harga di tingkat petani yang juga ikut mengalami kenaikan.
”Harga karet di tingkat petani sekarang ini kisaran Rp 6.500 per kg atau mengalami kenaikan dibandingkan bulan lalu yang hanya Rp 5.500 per kg,” kata Muskar, pedagang pengumpul.
Menurut dia, harga karet di tingkat petani sekarang ini mulai membaik, tetapi masih jauh dari harga normal seperti pada tahun 2007.
Karena itu, dia berharap harga karet tersebut beberapa hari mendatang akan terus mengalami kenaikan. Dengan demikian, para petani yang sebagian besar hanya mengandalkan dari hasil salah satu komoditas andalan Sumsel tersebut tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Data Dinas Perkebunan Sumsel menunjukkan, luas areal perkebunan karet di provinsi tersebut hampir 1 juta hektar, tersebar di beberapa daerah penghasil, seperti Kabupaten Muara Enim, Musi Banyuasin, Lahat, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, dan Banyuasin.(ANTARA/BOY
Sumber : Kompas 5 Mei 2009
Tanjabtim Butuh Pasar Pelelangan Karet
MUARASABAK- Kabupaten Tanjung Jabung Timur akan membangun pasar lelang karet di beberapa desa, diharapkan para petani tidak lagi menjual karet kepada tengkulak dengan harga yang sangat rendah.
‘’Selama ini mereka menjual dengan para tengkulak yang datang ke temat mereka dengan harga yang jauh lebih murah,’’ kata Kepala Dinas Kehutanan Tanjab Timur, Erwin
Menurut Erwin, pihaknya akan bekerjasama dengan Deperindag untuk membangun pasar lelang karet di daerah-daerah sentra penghasil karet di Kabupaten Tanjabtim.
Saat ini, harga karet cukup berfariasi yang berkisar dari Rp. 6000 hingga Rp.7000. padahal sebelumnya harga karet bisa mencapai Rp.15 ribu. (Infojambi.com/Ven/Tam)
‘’Selama ini mereka menjual dengan para tengkulak yang datang ke temat mereka dengan harga yang jauh lebih murah,’’ kata Kepala Dinas Kehutanan Tanjab Timur, Erwin
Menurut Erwin, pihaknya akan bekerjasama dengan Deperindag untuk membangun pasar lelang karet di daerah-daerah sentra penghasil karet di Kabupaten Tanjabtim.
Saat ini, harga karet cukup berfariasi yang berkisar dari Rp. 6000 hingga Rp.7000. padahal sebelumnya harga karet bisa mencapai Rp.15 ribu. (Infojambi.com/Ven/Tam)
Kamis, 30 April 2009
Ekspor Karet RI Jauh di Dibawah Kuota
ITRC tidak berwenang beri sanksi
JAKARTA: Eksportir karet mengurangi volume ekspor selama kuartal I/2009 sebanyak 197.423 ton atau 170% dibandingkan dengan kesepakatan dengan tiga negara anggota ITRC sebanyak 116.000 ton.
Dengan demikian, volume ekspor selama kuartal I lebih rendah dari target sebelumnya.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Suharto Honggokusumo mengatakan selama kuartal I/ 2009, pengurangan volume ekspor karet telah melebihi kuota yang telah disepakati oleh International Tripartite Rubber Council (ITRC).
"Kami [Gapkindo] telah mengurangi volume ekspor karet. Kalau tidak mematuhi itu [pengurangan volume ekspor], maka akan dimarahi ITRC, karena telah menjadi kesepakatan bersama," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.
Menurut Suharto, berdasarkan kesepakatan ITRC, Indonesia dapat mengekspor karet selama semester I tahun ini sebanyak 499.459 ton, tetapi realisasi ekspor hanya 418.037 ton. Hal itu disebabkan pengurangan yang dilakukan melebihi kuota yang telah diberikan ITRC.
Indonesia, Thailand, dan Malaysia yang tergabung dalam ITRC telah membuat kesepakatan pengurangan volume ekspor karet alam selama 2009 sebesar 915.000 ton atau 16% dari total ekspor 2008.
Program pengurangan ekspor itu dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga.
Total pengurangan sebesar 915.000 ton terdiri dari 700.000 ton melalui skema kesepakatan ketiga negara (Agree Export Tonnage Scheme/AETS), sedangkan 215.000 ton sebagai dampak dari peremajaan pohon karet dengan penebangan karet yang dinilai telah tua dan tidak produktif lagi.
Menurut Suharto, pengurangan kuota ekspor tersebut bertujuan menyeimbangkan pasokan sehingga harga tidak jatuh dan diharapkan stabil.
Tanpa sanksi
Berbeda dengan data Gapkindo, Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, Ditjen Perdagangan Luar Negeri, Departemen Perdagangan Yamanah A.C. mengatakan program pengurangan volume ekspor karet selama kuartal I terealisasi hanya 66% atau 76.560 ton.
"Harga karet kan mulai membaik. Jadi tidak masalah untuk mengekspor dalam jumlah besar. Tidak ada sanksi dari kesepakatan ITRC," ujarnya.
Menurut Yamanah, pengurangan volume dilakukan untuk menjaga agar harga tidak anjlok, sehingga saat harga mulai membaik, para eksportir agar melakukan pengapalan.
Dia menambahkan tidak ada sanksi dari kesepakatan ITRC, karena hanya bersifat imbauan dan kesadaran masing-masing negara untuk menjaga harga karet di pasar internasional tetap stabil.
Ekspor karet ketiga negara akan dikurangi sebanyak 270.000 ton atau 38,7% dari AETS selama kuartal I/2009. Kuota ekspor karet dari Indonesia dikurangi sebesar 116.000 ton selama kuartal I/2009, sedangkan Malaysia harus memangkas sebanyak 22.000 ton dan terbesar dari Thailand sebesar 132.000 ton.
Suharto tidak mengetahui realisasi pengurangan volume ekspor yang dilakukan Malaysia dan Thailand.
Harga karet saat ini, kata dia, telah mencapai US$1,58 per kg. Menurut dia, harga karet naik mulai awal bulan ini dari harga pada akhir Maret yang masih US$1,37 per kg.
Kenaikan harga minyak mentah dunia, kata dia, akan berpengaruh terhadap menguatnya harga karet di pasar internasional dan sebaliknya.
Suharto menambahkan faktor lain yang menyebabkan penguatan harga karet adalah program pengurangan volume ekspor yang dilakukan ITRC.
Suharto menilai naiknya harga karet pada pekan lalu juga terpengaruh gejolak politik Thailand sebagai produsen karet terbesar.
Gejolak politik di Thailand, katanya, dikhawatirkan mengganggu ekspor karet dari negara itu, karena negeri itu merupakan negara produsen karet terbesar.
Dirjen Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan Diah Maulida menuturkan kesepakatan ITRC tersebut merupakan instrumen yang sifatnya sementara saja, sehingga kesepakatan tersebut akan terus dikaji dengan melihat perkembangan harga karet di pasar internasional. (19) (redaksi@bisnis.co.id)
Sumber : Bisnis Indonesia
JAKARTA: Eksportir karet mengurangi volume ekspor selama kuartal I/2009 sebanyak 197.423 ton atau 170% dibandingkan dengan kesepakatan dengan tiga negara anggota ITRC sebanyak 116.000 ton.
Dengan demikian, volume ekspor selama kuartal I lebih rendah dari target sebelumnya.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Suharto Honggokusumo mengatakan selama kuartal I/ 2009, pengurangan volume ekspor karet telah melebihi kuota yang telah disepakati oleh International Tripartite Rubber Council (ITRC).
"Kami [Gapkindo] telah mengurangi volume ekspor karet. Kalau tidak mematuhi itu [pengurangan volume ekspor], maka akan dimarahi ITRC, karena telah menjadi kesepakatan bersama," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.
Menurut Suharto, berdasarkan kesepakatan ITRC, Indonesia dapat mengekspor karet selama semester I tahun ini sebanyak 499.459 ton, tetapi realisasi ekspor hanya 418.037 ton. Hal itu disebabkan pengurangan yang dilakukan melebihi kuota yang telah diberikan ITRC.
Indonesia, Thailand, dan Malaysia yang tergabung dalam ITRC telah membuat kesepakatan pengurangan volume ekspor karet alam selama 2009 sebesar 915.000 ton atau 16% dari total ekspor 2008.
Program pengurangan ekspor itu dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga.
Total pengurangan sebesar 915.000 ton terdiri dari 700.000 ton melalui skema kesepakatan ketiga negara (Agree Export Tonnage Scheme/AETS), sedangkan 215.000 ton sebagai dampak dari peremajaan pohon karet dengan penebangan karet yang dinilai telah tua dan tidak produktif lagi.
Menurut Suharto, pengurangan kuota ekspor tersebut bertujuan menyeimbangkan pasokan sehingga harga tidak jatuh dan diharapkan stabil.
Tanpa sanksi
Berbeda dengan data Gapkindo, Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, Ditjen Perdagangan Luar Negeri, Departemen Perdagangan Yamanah A.C. mengatakan program pengurangan volume ekspor karet selama kuartal I terealisasi hanya 66% atau 76.560 ton.
"Harga karet kan mulai membaik. Jadi tidak masalah untuk mengekspor dalam jumlah besar. Tidak ada sanksi dari kesepakatan ITRC," ujarnya.
Menurut Yamanah, pengurangan volume dilakukan untuk menjaga agar harga tidak anjlok, sehingga saat harga mulai membaik, para eksportir agar melakukan pengapalan.
Dia menambahkan tidak ada sanksi dari kesepakatan ITRC, karena hanya bersifat imbauan dan kesadaran masing-masing negara untuk menjaga harga karet di pasar internasional tetap stabil.
Ekspor karet ketiga negara akan dikurangi sebanyak 270.000 ton atau 38,7% dari AETS selama kuartal I/2009. Kuota ekspor karet dari Indonesia dikurangi sebesar 116.000 ton selama kuartal I/2009, sedangkan Malaysia harus memangkas sebanyak 22.000 ton dan terbesar dari Thailand sebesar 132.000 ton.
Suharto tidak mengetahui realisasi pengurangan volume ekspor yang dilakukan Malaysia dan Thailand.
Harga karet saat ini, kata dia, telah mencapai US$1,58 per kg. Menurut dia, harga karet naik mulai awal bulan ini dari harga pada akhir Maret yang masih US$1,37 per kg.
Kenaikan harga minyak mentah dunia, kata dia, akan berpengaruh terhadap menguatnya harga karet di pasar internasional dan sebaliknya.
Suharto menambahkan faktor lain yang menyebabkan penguatan harga karet adalah program pengurangan volume ekspor yang dilakukan ITRC.
Suharto menilai naiknya harga karet pada pekan lalu juga terpengaruh gejolak politik Thailand sebagai produsen karet terbesar.
Gejolak politik di Thailand, katanya, dikhawatirkan mengganggu ekspor karet dari negara itu, karena negeri itu merupakan negara produsen karet terbesar.
Dirjen Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan Diah Maulida menuturkan kesepakatan ITRC tersebut merupakan instrumen yang sifatnya sementara saja, sehingga kesepakatan tersebut akan terus dikaji dengan melihat perkembangan harga karet di pasar internasional. (19) (redaksi@bisnis.co.id)
Sumber : Bisnis Indonesia
Ekspor Karet Kalsel Tetap Lesu
BANJARMASIN, SELASA - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Subarjo mengungkapkan, harga ekspor karet alam nampaknya belum menggembirakan.
Hal itu terlihat dari perkembangan harga rata-rata ekspor karet alam asal Kalsel dalam tiga bulan terakhir Tahun 2009, ungkapnya.
Oleh karenanya ia memaklumi, keluhan petani karet di provinsi yang terdiri 13 Kabupaten/Kota tersebut. Karena sebelumnya harga karet alam di pasaran dunia sangat baik, kemudian menurun dan anjlok, akibat terpaan krisis ekonomi dan keuangan global pada 2008 lalu, tuturnya.
"Namun kita berharap derita petani karet jangan sampai berkepanjangan dan dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka bisa bersemangat kembali melakoni pekerjaanya," ujar Subarjo.
Data dari Disperindag Kalsel, perkembangan harga rata-rata komoditi ekspor karet alam pada triwulan pertama 2009, per kilogramnya tercatat Januari 1,64 dolar Amerika Serikat (AS), Februari turun menjadi 1,53 dolar AS, kemudian Maret turun lagi hingga harganya cuma 0,33 dolar AS.
Volume ekspor karet alam asal Kalsel triwulan pertama 2009 tercatat Januari 1.990.275 Kg, Februari turun jadi 1.881.598 Kg, dan Maret naik lagi menjadi 3.477.260 Kg.
Sedangkan nilai ekspor karet alam Kalsel dalam periode yang sama pada triwulan pertama 2009 tercatat, Januari 3.262.395,66 dolar AS, Februari turun jadi 2.776.806,05 dolar AS, dan Maret naik menjadi 4.639.571,19 dolar AS.(antara)
Sumber: Banjarmasi Post, Selasa 28 April 2009
Hal itu terlihat dari perkembangan harga rata-rata ekspor karet alam asal Kalsel dalam tiga bulan terakhir Tahun 2009, ungkapnya.
Oleh karenanya ia memaklumi, keluhan petani karet di provinsi yang terdiri 13 Kabupaten/Kota tersebut. Karena sebelumnya harga karet alam di pasaran dunia sangat baik, kemudian menurun dan anjlok, akibat terpaan krisis ekonomi dan keuangan global pada 2008 lalu, tuturnya.
"Namun kita berharap derita petani karet jangan sampai berkepanjangan dan dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka bisa bersemangat kembali melakoni pekerjaanya," ujar Subarjo.
Data dari Disperindag Kalsel, perkembangan harga rata-rata komoditi ekspor karet alam pada triwulan pertama 2009, per kilogramnya tercatat Januari 1,64 dolar Amerika Serikat (AS), Februari turun menjadi 1,53 dolar AS, kemudian Maret turun lagi hingga harganya cuma 0,33 dolar AS.
Volume ekspor karet alam asal Kalsel triwulan pertama 2009 tercatat Januari 1.990.275 Kg, Februari turun jadi 1.881.598 Kg, dan Maret naik lagi menjadi 3.477.260 Kg.
Sedangkan nilai ekspor karet alam Kalsel dalam periode yang sama pada triwulan pertama 2009 tercatat, Januari 3.262.395,66 dolar AS, Februari turun jadi 2.776.806,05 dolar AS, dan Maret naik menjadi 4.639.571,19 dolar AS.(antara)
Sumber: Banjarmasi Post, Selasa 28 April 2009
Senin, 27 April 2009
Tinajauan Harga Karet 27 April 2009
Pasaran: Turun. Harga turun akibat kekhawatiran terhadap penurunan permintaan.
Bahkan akhir pekan lalu, karet berjangka di Tokio sempat menyentuh 155 yen/kg akibat penguatan yen.
Namun pasaran mulai membaik akhir pekan lalu setelah tiga produsen papan atas Asia, Thailand, Indonesia dan Malaysia mengancam akan melakukan intervensi di pasar berjangka guna menyanggah harga.
Tidak hanya itu, negara-negara yang menghasilkan 70% output karet global itu berencana untuk mengurangi ekspor guna menaikkan harga.
Di Tokio, kontrak benchmark September 2009 ditutup 157,80 yen per kilo, turun dari 171,30 yen sepekan sebelumnya. Sementara kontrak Oktober yang memulai debutnya Jum’at berakhir 158,00 yen dibanding dengan harga pembukaan pagi 159,20 yen.
Di Singapura, TSR-20 Mei ditutup 144,90 sen AS/kg, turun dari 152,50 sepekan sebelumnya.
Di Thailand, STR-20 untuk Mei tercatat $1,58/kg, turun dari $1,66 Jumat sebelumnya.
Di Malaysia, SMR-20 untuk Mei ditutup $1,58/kg, turun dari $1,63
Di Indonesia, sentimen semakin tertekan oleh berita negatif tentang penutupan pabrik otomotif GM dalam jangka panjang selama libur musim panas. Lesunya permintaan karena kebanyakan konsumen sudah “well-covered” juga salah satu faktor penekan harga.
Suplai bahan olahan relatif normal. Harga bertahan dalam kisaran Rp.13.700/kg di Sumut.
SIR-20 ex Belawan diperdagangkan 68 sen AS/lb untuk Juni dan 68,50 sen untuk Juli.
Sumber : Waspada, Medan
Bahkan akhir pekan lalu, karet berjangka di Tokio sempat menyentuh 155 yen/kg akibat penguatan yen.
Namun pasaran mulai membaik akhir pekan lalu setelah tiga produsen papan atas Asia, Thailand, Indonesia dan Malaysia mengancam akan melakukan intervensi di pasar berjangka guna menyanggah harga.
Tidak hanya itu, negara-negara yang menghasilkan 70% output karet global itu berencana untuk mengurangi ekspor guna menaikkan harga.
Di Tokio, kontrak benchmark September 2009 ditutup 157,80 yen per kilo, turun dari 171,30 yen sepekan sebelumnya. Sementara kontrak Oktober yang memulai debutnya Jum’at berakhir 158,00 yen dibanding dengan harga pembukaan pagi 159,20 yen.
Di Singapura, TSR-20 Mei ditutup 144,90 sen AS/kg, turun dari 152,50 sepekan sebelumnya.
Di Thailand, STR-20 untuk Mei tercatat $1,58/kg, turun dari $1,66 Jumat sebelumnya.
Di Malaysia, SMR-20 untuk Mei ditutup $1,58/kg, turun dari $1,63
Di Indonesia, sentimen semakin tertekan oleh berita negatif tentang penutupan pabrik otomotif GM dalam jangka panjang selama libur musim panas. Lesunya permintaan karena kebanyakan konsumen sudah “well-covered” juga salah satu faktor penekan harga.
Suplai bahan olahan relatif normal. Harga bertahan dalam kisaran Rp.13.700/kg di Sumut.
SIR-20 ex Belawan diperdagangkan 68 sen AS/lb untuk Juni dan 68,50 sen untuk Juli.
Sumber : Waspada, Medan
Selasa, 21 April 2009
Ekspor Karet Sumut Turun
Senin, 20 April 2009 | 20:18 WIB
MEDAN, KOMPAS.com - Volume ekspor karet Sumatera Utara (Sumut) pada triwulan pertama tahun ini anjlok 27,46 persen dibanding periode sama tahun lalu atau tinggal 99.120 ton.
"Selain dipicu pengurangan ekspor sesuai kesepakatan tiga negara produsen Indonesia, Thailand, dan Malaysia, penurunan ekspor juga akibat krisis global dan menurunnya harga minyak mentah yang berdampak pada melemahnya permintaan karet Indonesia," kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah, di Medan, Senin (20/4).
Diduga penurunan ekspor masih akan terus berlanjut dengan total sekitar 10 persen mengingat krisis masih berlanjut. "Devisa juga diperkirakan turun karena meski harga ekspor sudah mulai menguat tapi belum ke angka seperti tahun lalu," katanya.
Dia menyebutkan, harga karet SIR 20 di pasar bursa Singapura pada 17 April ditutup pada angka 1,52 dollar AS per kilogram setelah sebelumnya sempat anjlok tinggal 1,02 dolar AS per kilogram.
Harga ekspor itu masih terus berfluktuasi seperti pada Senin (20/4) yang dibuka pada harga berkisar 1,46 dollar AS hingga 1,48 dollar AS per kilogram. "Ada prediksi harga masih bisa naik lagi, tapi tidak tertutup kemungkinan tertekan. Banyak faktor yang mempengaruhi khususnya harga minyak mentah," katanya.
Eksportir karet Sumut Tjoe Min Fat, mengaku optimistis harga bisa naik terus bahkan mencapai 1,7 dollar AS per kilogram. "Harga naik karena pasokan lagi ketat dan dipicu faktor lainnya. Tapi kenaikan harga tidak langsung drastis, namun berfluktuasi," katanya.
Sumber : http://regional.kompas.com/read/xml/2009/04/20/20185914/ekspor.karet.sumut.turun
MEDAN, KOMPAS.com - Volume ekspor karet Sumatera Utara (Sumut) pada triwulan pertama tahun ini anjlok 27,46 persen dibanding periode sama tahun lalu atau tinggal 99.120 ton.
"Selain dipicu pengurangan ekspor sesuai kesepakatan tiga negara produsen Indonesia, Thailand, dan Malaysia, penurunan ekspor juga akibat krisis global dan menurunnya harga minyak mentah yang berdampak pada melemahnya permintaan karet Indonesia," kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah, di Medan, Senin (20/4).
Diduga penurunan ekspor masih akan terus berlanjut dengan total sekitar 10 persen mengingat krisis masih berlanjut. "Devisa juga diperkirakan turun karena meski harga ekspor sudah mulai menguat tapi belum ke angka seperti tahun lalu," katanya.
Dia menyebutkan, harga karet SIR 20 di pasar bursa Singapura pada 17 April ditutup pada angka 1,52 dollar AS per kilogram setelah sebelumnya sempat anjlok tinggal 1,02 dolar AS per kilogram.
Harga ekspor itu masih terus berfluktuasi seperti pada Senin (20/4) yang dibuka pada harga berkisar 1,46 dollar AS hingga 1,48 dollar AS per kilogram. "Ada prediksi harga masih bisa naik lagi, tapi tidak tertutup kemungkinan tertekan. Banyak faktor yang mempengaruhi khususnya harga minyak mentah," katanya.
Eksportir karet Sumut Tjoe Min Fat, mengaku optimistis harga bisa naik terus bahkan mencapai 1,7 dollar AS per kilogram. "Harga naik karena pasokan lagi ketat dan dipicu faktor lainnya. Tapi kenaikan harga tidak langsung drastis, namun berfluktuasi," katanya.
Sumber : http://regional.kompas.com/read/xml/2009/04/20/20185914/ekspor.karet.sumut.turun
Minggu, 19 April 2009
Tinjauan Sepekan Pasaran Komoditi Internasional
………..
KA R E T
Pasaran: Tak menentu. Perdagangan ditutup tidak menentu akhir pekan lalu.
Harga berjangka di Tokio turun akibat melemahnya dukungan teknis dan melunaknya harga minyak.
Setelah gagal menembus level kunci pada tingkat 180 yen, harga kontrak patokan jatuh hingga titik terendah dalam sepekan Rabu lalu.
“Para fund manager tidak lagi melakukan pembelian setelah kegagalan harga menembus level teknis utama. Kecuali minyak naik tajam atau yen jatuh, maka karet akan sulit menembus 180 yen,” kata pedagang.
Di Tokio, kontrak benchmark September 2009 ditutup 171,30 yen per kilo, turun dari 174,30 sepekan sebelumnya.
Di Singapura, TSR-20 Mei ditutup 152,50 sen AS/kg, turun dari 156,00 sepekan sebelumnya.
Di Thailand, STR-20 untuk Mei tercatat $1,66/kg, naik dari $1,65 sepekan sebelumnya.
Di Malaysia, SMR-20 untuk Mei ditutup $1,63/kg, tidak berubah
Di Indonesia, sentimen pasar tertekan kembali kembali dengan kurangnya permintaan. Produksi salah satu pabrik pembuat ban utama Michelin di AS telah slow-down.
Namun harga bahan baku olah tetap bertahan antara Rp.13.000-13.750/kg di Sumut karena kurangnya produksi dalam musim trek.
SIR-20 ex Belawan diperdagangkan 70,50 sen AS/lb untuk Mei dan 70,75 sen untuk Juni.
…………….
Sumber: Harian Analisa Medan, 20 April 2009.
KA R E T
Pasaran: Tak menentu. Perdagangan ditutup tidak menentu akhir pekan lalu.
Harga berjangka di Tokio turun akibat melemahnya dukungan teknis dan melunaknya harga minyak.
Setelah gagal menembus level kunci pada tingkat 180 yen, harga kontrak patokan jatuh hingga titik terendah dalam sepekan Rabu lalu.
“Para fund manager tidak lagi melakukan pembelian setelah kegagalan harga menembus level teknis utama. Kecuali minyak naik tajam atau yen jatuh, maka karet akan sulit menembus 180 yen,” kata pedagang.
Di Tokio, kontrak benchmark September 2009 ditutup 171,30 yen per kilo, turun dari 174,30 sepekan sebelumnya.
Di Singapura, TSR-20 Mei ditutup 152,50 sen AS/kg, turun dari 156,00 sepekan sebelumnya.
Di Thailand, STR-20 untuk Mei tercatat $1,66/kg, naik dari $1,65 sepekan sebelumnya.
Di Malaysia, SMR-20 untuk Mei ditutup $1,63/kg, tidak berubah
Di Indonesia, sentimen pasar tertekan kembali kembali dengan kurangnya permintaan. Produksi salah satu pabrik pembuat ban utama Michelin di AS telah slow-down.
Namun harga bahan baku olah tetap bertahan antara Rp.13.000-13.750/kg di Sumut karena kurangnya produksi dalam musim trek.
SIR-20 ex Belawan diperdagangkan 70,50 sen AS/lb untuk Mei dan 70,75 sen untuk Juni.
…………….
Sumber: Harian Analisa Medan, 20 April 2009.
Jumat, 17 April 2009
Petani Karet Diimbau Jalin Kemitraan dengan Gapkindo
Agribisnis 01-04-2009
*herman saleh
MedanBisnis – Medan
Peran pedagang perantara (pengumpul) dalam distribusi penjulan bahan olah karet (bokar) dari petani ke pabrik dinilai sebagai pemicu rendahnya harga bokar di tingkat petani. Untuk memangkas jalur tersebut, Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut mengimbau kelompok petani maupun yang tergabung dalam koperasi menjadi mitra.
“Wadah-wadah ini kami himbau untuk menjadi anggota Gapkindo, sehingga petani bisa melakukan penjualan langsung ke pabrik dengan harga yang lebih tinggi,” kata Ketua Gapkindo Sumut, kepada MedanBisnis, Fauzi Hasballah, Selasa (31/3) di Medan.
Dikatakannya, yang sudah berjalan dengan baik sekarang ini adalah kelompok tani karet Andalan Simalungun, PT Bridgestone Indonesia, yang merupakan anggota Gapkindo. Namun demikian, katanya, keanggotaan ini masih minim, mengingat sulitnya menjalin kemitraan dengan petani.
Dicontohkannya, pabrik menetapkan harga bokar sebesar 80-85% dari harga FOB. Dengan demikian, lanjutnya, jika harga US$ 1,35 per kilogram atau setara Rp 11.750 per kg, maka harga karet kering sebesar Rp 13.480, dan seharga Rp 6.740 per kg untuk karet basah. “Sayangnya, petani sudah sangat tergantung dengan pedagang perantara,” ungkapnya mengenai kendala yang dihadapi.
Sebelumnya, Kepala Seksi Ekspor Hasil Pertanian dan Pertambangan Subdinas Perdagangan Luar Negeri (PLN) Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumut (Disperindagsu) Fitra Kurnia, tidak menampik adanya peran pihak ketiga dalam distribusi karet. “Pedagang pengumpul ini lah yang menetapkan harga di tingkat petani, sehingga perbedaan harga itu terus terjadi,” katanya.
*herman saleh
MedanBisnis – Medan
Peran pedagang perantara (pengumpul) dalam distribusi penjulan bahan olah karet (bokar) dari petani ke pabrik dinilai sebagai pemicu rendahnya harga bokar di tingkat petani. Untuk memangkas jalur tersebut, Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut mengimbau kelompok petani maupun yang tergabung dalam koperasi menjadi mitra.
“Wadah-wadah ini kami himbau untuk menjadi anggota Gapkindo, sehingga petani bisa melakukan penjualan langsung ke pabrik dengan harga yang lebih tinggi,” kata Ketua Gapkindo Sumut, kepada MedanBisnis, Fauzi Hasballah, Selasa (31/3) di Medan.
Dikatakannya, yang sudah berjalan dengan baik sekarang ini adalah kelompok tani karet Andalan Simalungun, PT Bridgestone Indonesia, yang merupakan anggota Gapkindo. Namun demikian, katanya, keanggotaan ini masih minim, mengingat sulitnya menjalin kemitraan dengan petani.
Dicontohkannya, pabrik menetapkan harga bokar sebesar 80-85% dari harga FOB. Dengan demikian, lanjutnya, jika harga US$ 1,35 per kilogram atau setara Rp 11.750 per kg, maka harga karet kering sebesar Rp 13.480, dan seharga Rp 6.740 per kg untuk karet basah. “Sayangnya, petani sudah sangat tergantung dengan pedagang perantara,” ungkapnya mengenai kendala yang dihadapi.
Sebelumnya, Kepala Seksi Ekspor Hasil Pertanian dan Pertambangan Subdinas Perdagangan Luar Negeri (PLN) Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumut (Disperindagsu) Fitra Kurnia, tidak menampik adanya peran pihak ketiga dalam distribusi karet. “Pedagang pengumpul ini lah yang menetapkan harga di tingkat petani, sehingga perbedaan harga itu terus terjadi,” katanya.
Kamis, 16 April 2009
Nilai Ekspor Karet dan Sawit Kalsel Membaik
Kamis, 16 April 2009 | 13:16 WITA
BANJARBARU, KAMIS - Nilai ekspor Kalimantan Selatan (Kalsel) kini mulai membaik jika dibandingkan dengan nilai ekspor yang sempat anjlok pada saat krisis global yang terjadi September 2008 lalu.
Hal itu dikemukakan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalsel, Drs. H. Subardjo disela-sela "coffee morning" jajaran pemerintah provinsi (Pemprov) setempat di Banjarbaru (32 Km utara Banjarmasin), Rabu.
Ia mengungkapkan, pada tahun 2007 nilai ekspor Kalsel mencapai tiga miliar dolar Amerdika Serikat (AS) dan 2008 menjadi empat miliar dolar AS atau meningkat sekitar 30 persen dari tahun sebelumnya.
"Krisis global membawa dampak yang sangat kuat terhadap beberapa ekspor komoditi non migas Kalsel, seperti karet alam, saat terjadi krisis harganya di pasar dunia anjlok sampai satu dolar AS/Kg. Sebelum terjadi krisi mencapai 3,2 dolar AS/Kg," ungkapnya.
Namun keadaan tersebut berangsur membaik, karena harga karet saat ini juga sudah mulai menunjukkan geliat pasar yakni 1,64 dolar AS/Kg. Keadaan serupa terhadap beberap komoditi ekspor yang juga mulai membaik, seperti dari sektor perkebunan kepala sawit, hasil bumi batu bara, dan rotan.
Ia menyatakan, krisis global ternyata tidak berpengruh keras terhadap nilai ekspor Kalsel, pasalnya tujuan pasar dunia bukan negara Amerika, melainkan negara-negara Asia seperti China, Jepang, Korea, Singapura, dan lainnya.
Selain itu, pihak Disperindag Kalsel juga terus berupaya mengembangkan usaha menengah dan kecil. Sebagai salah satu contoh, usaha pengolahan tikar purun di Kabupaten Batola Kuala (Batola) telah mendapatkan bantuan sehingga mampu meningkatkan kualitas produksinya hingga ke tingkat layak ekspor, demikian Subarjo.
Peningkatan ekspor Kalsel tersebut didominasi produk pertambangan, seperti batu bara, serta karet alam dan minyak mentak sawit (CPO). "Coffee morning" jajaran Pemprov Kalsel secara rutin dijadwalkan sepakan sekali itu, juga dihadiri unsur Muspidaq Provinsi setempat.
Sumber: http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/10336
BANJARBARU, KAMIS - Nilai ekspor Kalimantan Selatan (Kalsel) kini mulai membaik jika dibandingkan dengan nilai ekspor yang sempat anjlok pada saat krisis global yang terjadi September 2008 lalu.
Hal itu dikemukakan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalsel, Drs. H. Subardjo disela-sela "coffee morning" jajaran pemerintah provinsi (Pemprov) setempat di Banjarbaru (32 Km utara Banjarmasin), Rabu.
Ia mengungkapkan, pada tahun 2007 nilai ekspor Kalsel mencapai tiga miliar dolar Amerdika Serikat (AS) dan 2008 menjadi empat miliar dolar AS atau meningkat sekitar 30 persen dari tahun sebelumnya.
"Krisis global membawa dampak yang sangat kuat terhadap beberapa ekspor komoditi non migas Kalsel, seperti karet alam, saat terjadi krisis harganya di pasar dunia anjlok sampai satu dolar AS/Kg. Sebelum terjadi krisi mencapai 3,2 dolar AS/Kg," ungkapnya.
Namun keadaan tersebut berangsur membaik, karena harga karet saat ini juga sudah mulai menunjukkan geliat pasar yakni 1,64 dolar AS/Kg. Keadaan serupa terhadap beberap komoditi ekspor yang juga mulai membaik, seperti dari sektor perkebunan kepala sawit, hasil bumi batu bara, dan rotan.
Ia menyatakan, krisis global ternyata tidak berpengruh keras terhadap nilai ekspor Kalsel, pasalnya tujuan pasar dunia bukan negara Amerika, melainkan negara-negara Asia seperti China, Jepang, Korea, Singapura, dan lainnya.
Selain itu, pihak Disperindag Kalsel juga terus berupaya mengembangkan usaha menengah dan kecil. Sebagai salah satu contoh, usaha pengolahan tikar purun di Kabupaten Batola Kuala (Batola) telah mendapatkan bantuan sehingga mampu meningkatkan kualitas produksinya hingga ke tingkat layak ekspor, demikian Subarjo.
Peningkatan ekspor Kalsel tersebut didominasi produk pertambangan, seperti batu bara, serta karet alam dan minyak mentak sawit (CPO). "Coffee morning" jajaran Pemprov Kalsel secara rutin dijadwalkan sepakan sekali itu, juga dihadiri unsur Muspidaq Provinsi setempat.
Sumber: http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/10336
Minggu, 12 April 2009
ANALISIS HARGA KARET ALAM
Harga karet alam sering berfluktuasi, penyebabnya bermacam-macam dan tidak sama setiap kejadian. Sering pula kita mendengan statemen dari berbagai pihak, sepertinya benar, tetapi bisa menyesatkan
Oleh : Dasril Daniel, Jambi, 12 April 2009
Seorang pengusaha untuk berinvestasi, akan selalu melakukan prakiraan atau ramalan keadaan masa depan dari usaha yang akan dimulainya. Demikian juga dengan orang yang melanjutkan usaha, setiap atahun dan setiap saat melakukan ramalan-ramalan. Demikian juga dengan petani karet yang juga pengusaha setiap saat melakukan ramalan-ramalan, sadar atau tidak sadar. Ramalan yang mereka lakukan tersebut dapat diketahui dengan pertanyaan yang terlontar dari mereka, seperti berapa harga karet dipasar saat ini ? akankah naik harga kerat minggu depan? Dan lain sebagainya.
Sisi Kebutuan dan Produk Substitusi
Ketika karet sintetis belum ditemukan dan digunakan untuk bahan baku industri ban, meramal harga karet relatif sangat mudah, karena parameter yang mempengaruhi harga kerat relatif terbatas, dan kebutuhan terhadap karet setiap tahun meningkat, sejalan produksi mobil dunia yang selalu meningkat. Dapat dipastikan harga karet akan meningkat setiap tahun, karena pertumbuhan produksi karet lebih rendah dengan pertumbuhan konsumsi ban. Kalau ada fluktuatif, hanya pengaruh musim / cuaca serta petani memacu produksi pada waktu-waktu tertentu seperti menjelang puasa atau lebaran, sehingga harga karet sedikit tertekan.
Dengan digunakan karet sintetis (berasal dari minyak bumi) harga karet alam dipengaruhi oleh harga karet sintetis. Harga karet sintetis sendiri sangat dipengaruhi oleh harga minyak bumi atau harga bahan bakar. Ketika itu harga karet alam tidak setiap tahun meningkat, malah ada yang bisa terjun bebas.
Harga minyak bumi naik, maka harga karet sintetis akan ikut naik, maka industri ban akan lebih banyak menggunakan karet alam, maka harga karet alam ikutan naik, dan begitu sebaliknya.
Kalau harga minyak bumi naik terlalu tinggi, sehingga biaya produksi menjadi tinggi, dan harga mobil baru menjadi menjadi lebih tinggi, permintaan terhadap mobil baru berkurang, kebutuhan terhada ban berkurang (satu mobil baru membutuhkan minimal 5 ban baru ditambah beberapa kg komponen karet), sehingga permintaan terhada karet tidak meningkat malah menurun.
Harga bahan bakar yang meningkat tinggi, orang akan mengurangi kendaraan pribadi, dan mengurangi perjalanan, karena kendaraan umum juga menaikan harga sewanya. Ini sangat terasa pada negara maju yang bahan bakarnya tidak disubsidi oleh pemerintah. Dampaknya akan mengurangi kebutuhan terhadap ban dan juga karet alam.
Fluktuatif harga BBM, di Indonesia, tidak terlalu berpengaruh terhadap permintaan ban karena di Indonesia orang kurang rasional dalam berkendaraan, dan BBM di subsidi oleh pemerintah. Dan orang Indonesia kurang senang menggunakan kendaraan umum masal dengan berbagai alasan seperti kurang nyaman, aman, sering mendapat perlakuan kasar dari operator atau demi gengsi.
Harga minyak bumi yang selalu relatif tinggi, lebih memicu peneliti mencari bahan bakar alternatif, maka dikembangkan bahan bakar nabati seperti biodiesel dari minyak sawit, kedele. Bio-etanol atau bio bensin dari jagung, tetes tebu dan sumber karbohidrat lainnya, sehingga harga pangan dengan harga bahan bakar saling pengaruh, dan akan mempengaruhi harga karet.
Harga produk pangan seperti sawit, kelapa, kedele, kacang, jagung, tebu, bit dan lainya sangat dipengaruhi oleh produksi, produksi dipengaruhi oleh iklim dan cuaca, pemanasan global, iklim jadi kacau, cuaca semakin sulit untuk diramal, maka parameter yang mempengaruhi semakin sulit diramal.
Pada industri besar dan listrik dikembangkan pula sumber energi dari batu bara, maka harga batu bara, secara tidak langsung akan mempengaruhi harga karet alam.
Artinya dari sisi permintaan parameter yang mempengaruhi harga karet alam semakin banyak dan semakin rumit kaitannya, dan semakin sulit meramal harga karet alam.
Dari Sisi Suplai
Produksi karet di pengaruhi oleh berbagai hal terutama di Indonesia.
Produksi karet di Indonesia dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. Seperti diketahui tanaman karet berasal dari negara subtropis, maka di negeri asalanya ada musim rontok, di Indonesia juga karetnya menegenal musim rontok kalau di Jambi disebut “MUSIM TREK”. Pada musim rontok ini, produktivitas pohon menurun, dan dengan asumsi harga pasar luar negeri stabil, harga tingkat petani menjadi lebih baik.
Cuaca, juga mempengaruh, pada waktu hujan petani tidak bisa menyadap, karena lateks yang keluar tidak bisa ditampung, karena latek mengencer dan jatuh disekeliling batang, termasuk hujan waktu dinihari, batang masih keadaan basah. Kalau banyak turun hujan, atau pada musim hujan maka produksi karet petani menurun.
Seperti di ketahui produsen karet dunia ada di Asia Tenggara, Indonesia, Malaysia dan Thailand dengan pola iklim yang hampir sama, maka pada musim hujan suplai berkurang, harga meningkat, tetapi kenaikan harga tidak dinikmati petani karena produksi menurun. Sebaliknya pada iklim baik, masih ada turun hujan produksi akan meningkat. Sebaliknya bila kemarau panjang, pohon karet kekurangan suplai air, produksi juga menurun (kebun karet tidak ada sistem pengairan), dan harga meningkat.
Sekali lagi pemanasan global, iklim tidak menentu, meramal cuaca semakin sulit, tentu meramal produksi karet semakin sulit pula dan begitu juga meramal harga karet.
Kemudian budaya lokal juga mempengaruh produksi karet, seperti menjelang perayaan hari raya keagamaan, produksi di pacu, harga turun.
Kadang kala pada desa tertentu, karena hajatan tertentu, petani tidak menyadap berhari-hari, akan mempengaruhi produksi, karena sifatnya lokal, maka tidak akan mempengaruhi harga secara luas.
Ekspor
Industri/eksportir karet menjual karetnya dengan sistem kontrak jangka pendek, bila suatu industri / eksportir yang kontrak ekspornya hampir jatuh tempo, sedang produksinya belum tersedia, maka mereka akan membeli bahan baku atau bokar, berapa saja dengan harga tinggi jauh diatas wajar/normal, sampai kebutuhannya tercukupi, maka mereka akan membeli karet kemana saja sampai kedesa-desa atau pasar lelang karet yang ada. Maka akan terjadi lonjakan harga karet secara lokal, sporadis dan waktu singkat, tidak normal, kalau dia membeli pada pedagangan pengumpul, ini rezeki nomplok bagi pedangang, tetapi kalau mereka membeli di pasar lelang karet pedesaan ini rezeki nomplok bagi petani, asal dia pergi pasar lelang sesudah itu tidak kacau. Pada pasar lelang karet yang sudah lama berlangsung, ini dianggap rezeki besar semusim saja, dan tidak mengganggu pasar lelang.
Bagi eksportir lebih baik memebeli bahan baku dengan harga yang tinggi, dari pada cacat kontrak, kalau cacat kontrak, bisa kehilangan langganan, dan menimbulkan kerugian berkepanjangan (loss profit)
Perang
Ban dan BBM adalah bagian atau komponen alat persenjataan, maka Departemen pertahanan negara kaya, mempunyai cadangan karet, untuk mengatisipasi terjadinya perang. Ini belajar dari Perang Korea, ketika perang Korea harga karet melambung tinggi.
Tanpa ada ban kedaraan perang tidak bisa digunakan, dan kebutuhan bannya sangat besar. Dan mereka tidak mencadangkan dalam bentuk ban, tetapi dalam bentuk crumb rubber atau RSS. Pada saat-saat tertentu jadangan ini akan dilepas karet alamnya ke pasar untuk penyegaran, sehingga harga karet dunia akan kacau atau anjlok. Karena ini termasuk dalam sistem persenjataan, berapa besarnya stok, berapa besar yang akan dilepas ke pasar, kapa akan dilepas, sesuatu yang dirahasiakan oleh Departemen Keamanan tersebut, sehingga pasar terdadak.
Permainan Spikulan
Dulu pemain di pasar finansial, seperti pasar modal, obligisi, valuta adalah orang / lemabaga tertentu, sedangkan yang bermain di pasar komoditi orang tertentu pula, sekarang pemodal / spikulan yang bermain di pasar finansial, juga bermain di pasar komoditi, sehingga naik turunya harga di pasar komoditi, suka aneh-aneh, karena ada pengaruh dari pasar finansial, ini yang terjadi di harga komoditi tahun 2008, yang harga melambung-lambung tidak karukaruan, dan menjelang tahun 2009 turun pula tidak karukaruan.
Kedaan Harga Karet 2009
Harga karet tahun 2008 meningkat tajam akibat permainan spikilulan, harga minyak bumi yang sangat tinggi, tetapi harga minyak bumi dan BBM sudah turun drastis, tetapi produksi kendaran juga tidak terpacu, juga harga karet tidak begitu membaik. Karena konsumen negara maju, sudah terjebak kredit konsumtif, berapun pendapat akan digunakan untuk membayar kredit. Kemudian timbulnya kesadaran baru pada masyarakat negara maju akan mengurangi kredit konsumtif, dan beralih hidup menabung dan lebih rasional berbelanja.
Stimulus yang dilepaskan berbagai negara maju, akan berpengaruh terhadap harga karet, tetapi tidak serta-merta. Kalau dana stimulus berhasil, akan meningkatkan pendapatan masyarakatnya, tetapi secara berangsur akan meningkatkan konsumsi kendaran dan ban.
Analisis Harga Karet
Harga karet akan selalu berfluktuatif, tetapi penyebab fluktuatif itu tidak akan sama, faktor penyebab utamanya berbeda-beda, dan tidak mudah terbaca karena semakin rumitnya parameter yang mempengaruhi, oleh sebab itu perlu analisis yang mendalam, untuk mecari solusi terbaik bagi petani.
Oleh sebab itu para pakar, kritikus, komentator, birokrat dan LSM, jangan terlalu mudah membuat statement sebelum melakukan kajian yang mendalam, karena akan membuat kisruh pada petani. Karena statement tanpa kajian mendalam akan bias atau bertolak belakan dari kejadi. Sehingga solusinya juga tidak tepat.
Oleh : Dasril Daniel, Jambi, 12 April 2009
Seorang pengusaha untuk berinvestasi, akan selalu melakukan prakiraan atau ramalan keadaan masa depan dari usaha yang akan dimulainya. Demikian juga dengan orang yang melanjutkan usaha, setiap atahun dan setiap saat melakukan ramalan-ramalan. Demikian juga dengan petani karet yang juga pengusaha setiap saat melakukan ramalan-ramalan, sadar atau tidak sadar. Ramalan yang mereka lakukan tersebut dapat diketahui dengan pertanyaan yang terlontar dari mereka, seperti berapa harga karet dipasar saat ini ? akankah naik harga kerat minggu depan? Dan lain sebagainya.
Sisi Kebutuan dan Produk Substitusi
Ketika karet sintetis belum ditemukan dan digunakan untuk bahan baku industri ban, meramal harga karet relatif sangat mudah, karena parameter yang mempengaruhi harga kerat relatif terbatas, dan kebutuhan terhadap karet setiap tahun meningkat, sejalan produksi mobil dunia yang selalu meningkat. Dapat dipastikan harga karet akan meningkat setiap tahun, karena pertumbuhan produksi karet lebih rendah dengan pertumbuhan konsumsi ban. Kalau ada fluktuatif, hanya pengaruh musim / cuaca serta petani memacu produksi pada waktu-waktu tertentu seperti menjelang puasa atau lebaran, sehingga harga karet sedikit tertekan.
Dengan digunakan karet sintetis (berasal dari minyak bumi) harga karet alam dipengaruhi oleh harga karet sintetis. Harga karet sintetis sendiri sangat dipengaruhi oleh harga minyak bumi atau harga bahan bakar. Ketika itu harga karet alam tidak setiap tahun meningkat, malah ada yang bisa terjun bebas.
Harga minyak bumi naik, maka harga karet sintetis akan ikut naik, maka industri ban akan lebih banyak menggunakan karet alam, maka harga karet alam ikutan naik, dan begitu sebaliknya.
Kalau harga minyak bumi naik terlalu tinggi, sehingga biaya produksi menjadi tinggi, dan harga mobil baru menjadi menjadi lebih tinggi, permintaan terhadap mobil baru berkurang, kebutuhan terhada ban berkurang (satu mobil baru membutuhkan minimal 5 ban baru ditambah beberapa kg komponen karet), sehingga permintaan terhada karet tidak meningkat malah menurun.
Harga bahan bakar yang meningkat tinggi, orang akan mengurangi kendaraan pribadi, dan mengurangi perjalanan, karena kendaraan umum juga menaikan harga sewanya. Ini sangat terasa pada negara maju yang bahan bakarnya tidak disubsidi oleh pemerintah. Dampaknya akan mengurangi kebutuhan terhadap ban dan juga karet alam.
Fluktuatif harga BBM, di Indonesia, tidak terlalu berpengaruh terhadap permintaan ban karena di Indonesia orang kurang rasional dalam berkendaraan, dan BBM di subsidi oleh pemerintah. Dan orang Indonesia kurang senang menggunakan kendaraan umum masal dengan berbagai alasan seperti kurang nyaman, aman, sering mendapat perlakuan kasar dari operator atau demi gengsi.
Harga minyak bumi yang selalu relatif tinggi, lebih memicu peneliti mencari bahan bakar alternatif, maka dikembangkan bahan bakar nabati seperti biodiesel dari minyak sawit, kedele. Bio-etanol atau bio bensin dari jagung, tetes tebu dan sumber karbohidrat lainnya, sehingga harga pangan dengan harga bahan bakar saling pengaruh, dan akan mempengaruhi harga karet.
Harga produk pangan seperti sawit, kelapa, kedele, kacang, jagung, tebu, bit dan lainya sangat dipengaruhi oleh produksi, produksi dipengaruhi oleh iklim dan cuaca, pemanasan global, iklim jadi kacau, cuaca semakin sulit untuk diramal, maka parameter yang mempengaruhi semakin sulit diramal.
Pada industri besar dan listrik dikembangkan pula sumber energi dari batu bara, maka harga batu bara, secara tidak langsung akan mempengaruhi harga karet alam.
Artinya dari sisi permintaan parameter yang mempengaruhi harga karet alam semakin banyak dan semakin rumit kaitannya, dan semakin sulit meramal harga karet alam.
Dari Sisi Suplai
Produksi karet di pengaruhi oleh berbagai hal terutama di Indonesia.
Produksi karet di Indonesia dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. Seperti diketahui tanaman karet berasal dari negara subtropis, maka di negeri asalanya ada musim rontok, di Indonesia juga karetnya menegenal musim rontok kalau di Jambi disebut “MUSIM TREK”. Pada musim rontok ini, produktivitas pohon menurun, dan dengan asumsi harga pasar luar negeri stabil, harga tingkat petani menjadi lebih baik.
Cuaca, juga mempengaruh, pada waktu hujan petani tidak bisa menyadap, karena lateks yang keluar tidak bisa ditampung, karena latek mengencer dan jatuh disekeliling batang, termasuk hujan waktu dinihari, batang masih keadaan basah. Kalau banyak turun hujan, atau pada musim hujan maka produksi karet petani menurun.
Seperti di ketahui produsen karet dunia ada di Asia Tenggara, Indonesia, Malaysia dan Thailand dengan pola iklim yang hampir sama, maka pada musim hujan suplai berkurang, harga meningkat, tetapi kenaikan harga tidak dinikmati petani karena produksi menurun. Sebaliknya pada iklim baik, masih ada turun hujan produksi akan meningkat. Sebaliknya bila kemarau panjang, pohon karet kekurangan suplai air, produksi juga menurun (kebun karet tidak ada sistem pengairan), dan harga meningkat.
Sekali lagi pemanasan global, iklim tidak menentu, meramal cuaca semakin sulit, tentu meramal produksi karet semakin sulit pula dan begitu juga meramal harga karet.
Kemudian budaya lokal juga mempengaruh produksi karet, seperti menjelang perayaan hari raya keagamaan, produksi di pacu, harga turun.
Kadang kala pada desa tertentu, karena hajatan tertentu, petani tidak menyadap berhari-hari, akan mempengaruhi produksi, karena sifatnya lokal, maka tidak akan mempengaruhi harga secara luas.
Ekspor
Industri/eksportir karet menjual karetnya dengan sistem kontrak jangka pendek, bila suatu industri / eksportir yang kontrak ekspornya hampir jatuh tempo, sedang produksinya belum tersedia, maka mereka akan membeli bahan baku atau bokar, berapa saja dengan harga tinggi jauh diatas wajar/normal, sampai kebutuhannya tercukupi, maka mereka akan membeli karet kemana saja sampai kedesa-desa atau pasar lelang karet yang ada. Maka akan terjadi lonjakan harga karet secara lokal, sporadis dan waktu singkat, tidak normal, kalau dia membeli pada pedagangan pengumpul, ini rezeki nomplok bagi pedangang, tetapi kalau mereka membeli di pasar lelang karet pedesaan ini rezeki nomplok bagi petani, asal dia pergi pasar lelang sesudah itu tidak kacau. Pada pasar lelang karet yang sudah lama berlangsung, ini dianggap rezeki besar semusim saja, dan tidak mengganggu pasar lelang.
Bagi eksportir lebih baik memebeli bahan baku dengan harga yang tinggi, dari pada cacat kontrak, kalau cacat kontrak, bisa kehilangan langganan, dan menimbulkan kerugian berkepanjangan (loss profit)
Perang
Ban dan BBM adalah bagian atau komponen alat persenjataan, maka Departemen pertahanan negara kaya, mempunyai cadangan karet, untuk mengatisipasi terjadinya perang. Ini belajar dari Perang Korea, ketika perang Korea harga karet melambung tinggi.
Tanpa ada ban kedaraan perang tidak bisa digunakan, dan kebutuhan bannya sangat besar. Dan mereka tidak mencadangkan dalam bentuk ban, tetapi dalam bentuk crumb rubber atau RSS. Pada saat-saat tertentu jadangan ini akan dilepas karet alamnya ke pasar untuk penyegaran, sehingga harga karet dunia akan kacau atau anjlok. Karena ini termasuk dalam sistem persenjataan, berapa besarnya stok, berapa besar yang akan dilepas ke pasar, kapa akan dilepas, sesuatu yang dirahasiakan oleh Departemen Keamanan tersebut, sehingga pasar terdadak.
Permainan Spikulan
Dulu pemain di pasar finansial, seperti pasar modal, obligisi, valuta adalah orang / lemabaga tertentu, sedangkan yang bermain di pasar komoditi orang tertentu pula, sekarang pemodal / spikulan yang bermain di pasar finansial, juga bermain di pasar komoditi, sehingga naik turunya harga di pasar komoditi, suka aneh-aneh, karena ada pengaruh dari pasar finansial, ini yang terjadi di harga komoditi tahun 2008, yang harga melambung-lambung tidak karukaruan, dan menjelang tahun 2009 turun pula tidak karukaruan.
Kedaan Harga Karet 2009
Harga karet tahun 2008 meningkat tajam akibat permainan spikilulan, harga minyak bumi yang sangat tinggi, tetapi harga minyak bumi dan BBM sudah turun drastis, tetapi produksi kendaran juga tidak terpacu, juga harga karet tidak begitu membaik. Karena konsumen negara maju, sudah terjebak kredit konsumtif, berapun pendapat akan digunakan untuk membayar kredit. Kemudian timbulnya kesadaran baru pada masyarakat negara maju akan mengurangi kredit konsumtif, dan beralih hidup menabung dan lebih rasional berbelanja.
Stimulus yang dilepaskan berbagai negara maju, akan berpengaruh terhadap harga karet, tetapi tidak serta-merta. Kalau dana stimulus berhasil, akan meningkatkan pendapatan masyarakatnya, tetapi secara berangsur akan meningkatkan konsumsi kendaran dan ban.
Analisis Harga Karet
Harga karet akan selalu berfluktuatif, tetapi penyebab fluktuatif itu tidak akan sama, faktor penyebab utamanya berbeda-beda, dan tidak mudah terbaca karena semakin rumitnya parameter yang mempengaruhi, oleh sebab itu perlu analisis yang mendalam, untuk mecari solusi terbaik bagi petani.
Oleh sebab itu para pakar, kritikus, komentator, birokrat dan LSM, jangan terlalu mudah membuat statement sebelum melakukan kajian yang mendalam, karena akan membuat kisruh pada petani. Karena statement tanpa kajian mendalam akan bias atau bertolak belakan dari kejadi. Sehingga solusinya juga tidak tepat.
Sabtu, 11 April 2009
Petani Dianjurkan Tanam Bibit Unggul
Palembang, Kompas - Balai Penelitian Karet Sembawa mengimbau segenap petani inti rakyat agar mewaspadai penjualan bibit karet palsu atau berkualitas rendah yang marak belakangan ini. Oleh karena itu, akan lebih baik jika petani lebih selektif dalam memilih bibit, yakni bibit unggul yang sudah diuji dan dijadikan rekomendasi klon tanaman karet.
Demikian disampaikan ahli peneliti utama Balai Penelitian Karet Sembawa, Island Boerhendhy, Kamis (9/4).
Island menegaskan bahwa imbauan tersebut disampaikan bukan untuk menakuti-nakuti, tetapi semata-mata untuk menyelamatkan nasib petani dan perkebunan karet. Di sisi lain, hal itu juga bisa menghambat perkembangan produksi di sektor perkebunan karet.
”Padahal, pemerintah tetap menetapkan produksi karet Indonesia bisa menembus 4 juta ton di 2025 mendatang. Jika produktivitas terhambat masalah bibit palsu, sulit rasanya mencapai target produksi itu,” katanya.
Klon rekomendasi
Berdasarkan rumusan lokakarya tentang pemuliaan tanaman karet, pihak Balai Penelitian Karet Sembawa sebenarnya sudah mengeluarkan dan menyosialisasikan acuan klon karet rekomendasi tahun 2006-2010. Island menjelaskan, klon ini terdiri dari dua jenis, yakni klon anjuran komersial dan klon harapan.
”Klon anjuran komersial merupakan jenis-jenis bibit yang sudah berhasil diuji dan bisa langsung digunakan oleh petani. Sedangkan klon harapan adalah jenis bibit yang punya potensi pertumbuhan yang baik, tetapi belum bisa diperoleh dalam bentuk benih bina,” katanya.
Berdasarkan data Balai Penelitian Karet Sembawa, jenis bibit dalam klon anjuran komersial ini antara lain bibit penghasil lateks (BPM 24, BPM 107, dan BPM 109), bibit penghasil lateks-kayu (IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 112), dan bibit murni penghasil kayu (IRR 70, IRR 71, dan IRR 78).
Sementara jenis bibit yang masuk dalam kategori klon harapan antara lain IRR 24, IRR 33, IRR 41, IRR 54, IRR 111, IRR 141, dan IRR 144.
”Semua bibit karet ini sudah jadi rekomendasi resmi. Jadi, kecil kemungkinan petani akan gagal dan merugi,” katanya.
Ciri unggul
Island menambahkan bahwa bibit karet rekomendasi ini secara umum memiliki potensi produksi getah karet yang tinggi, di sisi lain juga memiliki sifat sekunder yang unggul, antara lain proses pertumbuhan di usia nonproduksi relatif cepat, kulit kayu tebal, lebih tahan cuaca seperti angin kencang, serta memiliki tingkat ketahanan yang baik terhadap hama penyakit.
”Ketika masih berupa bibit karet yang berusia kurang dari setahun, karet rawan terhadap penyakit gugur daun, jamur upas, dan penyakit batang,” ungkapnya. (ONI)
Sumber : Kompas, 11 April 2009
Demikian disampaikan ahli peneliti utama Balai Penelitian Karet Sembawa, Island Boerhendhy, Kamis (9/4).
Island menegaskan bahwa imbauan tersebut disampaikan bukan untuk menakuti-nakuti, tetapi semata-mata untuk menyelamatkan nasib petani dan perkebunan karet. Di sisi lain, hal itu juga bisa menghambat perkembangan produksi di sektor perkebunan karet.
”Padahal, pemerintah tetap menetapkan produksi karet Indonesia bisa menembus 4 juta ton di 2025 mendatang. Jika produktivitas terhambat masalah bibit palsu, sulit rasanya mencapai target produksi itu,” katanya.
Klon rekomendasi
Berdasarkan rumusan lokakarya tentang pemuliaan tanaman karet, pihak Balai Penelitian Karet Sembawa sebenarnya sudah mengeluarkan dan menyosialisasikan acuan klon karet rekomendasi tahun 2006-2010. Island menjelaskan, klon ini terdiri dari dua jenis, yakni klon anjuran komersial dan klon harapan.
”Klon anjuran komersial merupakan jenis-jenis bibit yang sudah berhasil diuji dan bisa langsung digunakan oleh petani. Sedangkan klon harapan adalah jenis bibit yang punya potensi pertumbuhan yang baik, tetapi belum bisa diperoleh dalam bentuk benih bina,” katanya.
Berdasarkan data Balai Penelitian Karet Sembawa, jenis bibit dalam klon anjuran komersial ini antara lain bibit penghasil lateks (BPM 24, BPM 107, dan BPM 109), bibit penghasil lateks-kayu (IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 112), dan bibit murni penghasil kayu (IRR 70, IRR 71, dan IRR 78).
Sementara jenis bibit yang masuk dalam kategori klon harapan antara lain IRR 24, IRR 33, IRR 41, IRR 54, IRR 111, IRR 141, dan IRR 144.
”Semua bibit karet ini sudah jadi rekomendasi resmi. Jadi, kecil kemungkinan petani akan gagal dan merugi,” katanya.
Ciri unggul
Island menambahkan bahwa bibit karet rekomendasi ini secara umum memiliki potensi produksi getah karet yang tinggi, di sisi lain juga memiliki sifat sekunder yang unggul, antara lain proses pertumbuhan di usia nonproduksi relatif cepat, kulit kayu tebal, lebih tahan cuaca seperti angin kencang, serta memiliki tingkat ketahanan yang baik terhadap hama penyakit.
”Ketika masih berupa bibit karet yang berusia kurang dari setahun, karet rawan terhadap penyakit gugur daun, jamur upas, dan penyakit batang,” ungkapnya. (ONI)
Sumber : Kompas, 11 April 2009
Karet Di Kabupaten Tebo
Rencana Pengembangan Kebun Karet 2009 Seluas 2.975 Ha
Sabtu, 11/04/2009
MUARA TEBO- Rencana pengembangan kebun karet untuk Kabupaten Tebo tahun 2009 ini akan dilanjutkan dengan luas total seluruhnya sebanyak 2.975 Ha, masing-masing dengan dana yang diambil dari APBD Kabupaten Tebo seluas 400 Ha, dari APBD Provinsi seluas 2.500 Ha dan dari APBN (Dana Tugas Pembantu) seluas 75 Ha.
Hal ini disampaikan oleh Bupati Tebo Drs.H.A.Majid Muas MM disela-sela acara Kunjungan Kerja Bapak Gubernur Jambi di Kabupaten Tebo dalam rangka tanam perdana program pengembangan Kebun Karet Rakyat tahun anggaran 2009 pada sabtu (04/04) lalu “Program pengembangan kebun karet ini akan terus dilanjutkan pada tahun yang akan datang baik dengan dana APBD Kabupaten Tebo, APBD Provinsi dan APBN guna menunjang pilar pembangunan salah satunya adalah ekonomi kerakyatan,” ungkap Bupati ketika itu.
Bupati menjelaskan program pengembangan kebun karet rakyat ini khusus di Kabupaten Tebo sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2001 lalu dengan sumber dana dari APBD Kabupaten Tebo dengan luas 108 Ha, kemudian dilanjutkan tahun 2002 seluas 750 Ha, tahun 2003 seluas 895 Ha, tahun 2004 seluas 650 ha, tahun 2005 seluas 600 Ha, tahun 2007 seluas 300 Ha dan tahun 2008 seluas 660 Ha. “Untuk tahun 2006/2007 kegiatan pengembangan kebun karet ini didanai oleh APBD Provinsi seluas 2.402 Ha dan tahun 2008 seluas 400 Ha sedangkan dari APBN tahun 2008 seluas 105 Ha,” terang Bupati lagi
Sehingga Bupati menyebutkan total luas pengembangan kebun karet rakyat di Kabupaten Tebo sampai dengan tahun 2008 adalah seluas 6.870 ha yang tersebar di seluruh wilayah Desa dan Kecamatan yang ada di Kabupaten Tebo.
Bupati menambahkan kegiatan itu merupakan sebagian upaya pemerintah Provinsi Jambi dan pemkab Tebo dalam peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Tebo. “Dengan ini saya berharap agar seluruh lapisan masyarakat dapat mendukung program ini maupun program lain sehingga dapat berjalan lancar, tepat sasaran dan dapat mencapai tujuan secara optimal,” tandasnya. (infojambi.com/SUK), Sumber : infojambi.com
Sabtu, 11/04/2009
MUARA TEBO- Rencana pengembangan kebun karet untuk Kabupaten Tebo tahun 2009 ini akan dilanjutkan dengan luas total seluruhnya sebanyak 2.975 Ha, masing-masing dengan dana yang diambil dari APBD Kabupaten Tebo seluas 400 Ha, dari APBD Provinsi seluas 2.500 Ha dan dari APBN (Dana Tugas Pembantu) seluas 75 Ha.
Hal ini disampaikan oleh Bupati Tebo Drs.H.A.Majid Muas MM disela-sela acara Kunjungan Kerja Bapak Gubernur Jambi di Kabupaten Tebo dalam rangka tanam perdana program pengembangan Kebun Karet Rakyat tahun anggaran 2009 pada sabtu (04/04) lalu “Program pengembangan kebun karet ini akan terus dilanjutkan pada tahun yang akan datang baik dengan dana APBD Kabupaten Tebo, APBD Provinsi dan APBN guna menunjang pilar pembangunan salah satunya adalah ekonomi kerakyatan,” ungkap Bupati ketika itu.
Bupati menjelaskan program pengembangan kebun karet rakyat ini khusus di Kabupaten Tebo sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2001 lalu dengan sumber dana dari APBD Kabupaten Tebo dengan luas 108 Ha, kemudian dilanjutkan tahun 2002 seluas 750 Ha, tahun 2003 seluas 895 Ha, tahun 2004 seluas 650 ha, tahun 2005 seluas 600 Ha, tahun 2007 seluas 300 Ha dan tahun 2008 seluas 660 Ha. “Untuk tahun 2006/2007 kegiatan pengembangan kebun karet ini didanai oleh APBD Provinsi seluas 2.402 Ha dan tahun 2008 seluas 400 Ha sedangkan dari APBN tahun 2008 seluas 105 Ha,” terang Bupati lagi
Sehingga Bupati menyebutkan total luas pengembangan kebun karet rakyat di Kabupaten Tebo sampai dengan tahun 2008 adalah seluas 6.870 ha yang tersebar di seluruh wilayah Desa dan Kecamatan yang ada di Kabupaten Tebo.
Bupati menambahkan kegiatan itu merupakan sebagian upaya pemerintah Provinsi Jambi dan pemkab Tebo dalam peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Tebo. “Dengan ini saya berharap agar seluruh lapisan masyarakat dapat mendukung program ini maupun program lain sehingga dapat berjalan lancar, tepat sasaran dan dapat mencapai tujuan secara optimal,” tandasnya. (infojambi.com/SUK), Sumber : infojambi.com
Langganan:
Postingan (Atom)